Kriminal

Al Khaththath Minta Uang, HP dan Laptop yang Disita Polisi Dikembalikan

Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Gatot Saptono alias Muhammad Al Khaththath.
Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Gatot Saptono alias Muhammad Al Khaththath. (Foto: Detikcom/Ari Saputra)

Jurnalindonesia.co.id – Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath menanyakan sejumlah alat bukti yang disita penyidik Polda Metro Jaya saat menangkap dirinya pada 31 Maret 2017 silam.

Menurutnya, alat-alat bukti tersebut belum dikembalikan sampai saat ini, antara lain uang sebesar Rp17,5 juta, sejumlah telepon seluler dan laptop.

Uang Rp17,5 juta itu, kata Al Khaththath, dijadikan polisi sebagai barang bukti atas dugaan makar yang dituduhkan terhadap dirinya.

Sebagaimana diketahui, Al Khaththath ditangkap pada Maret tahun lalu atas dugaan makar dan otak gerakan aksi 313.

“Rp17,5 juta itu jadi barang bukti tindakan makar, makar opo? Dan barang bukti itu sampai hari ini (tidak dikembalikan),” kata dia di Gedung Joang ’45, Jakarta, Sabtu (24/2).

Selain itu, pria bernama asli Muhammad Gatot Saptono itu juga menyebut lima unit telepon genggam yang disita, di antaranya dua unit milik dirinya, dua unit milik istrinya, dan satu unit milik sopir.

Baca Juga:  Politisi PDIP Laporkan Pemilik Akun Instagram 'Habib Rizieq' dan Facebook 'Satu Channel'

Juga, satu unit laptop miliknya dan sang istri pun ikut disita. Barang-barang tersebut sampai sekarang belum juga dikembalikan.

“Nah, itu yang barang-barang bukti, sampai saya keluar dari Polda Metro (tak dikembalikan),” tuturnya.

Selain soal barang bukti, Al Khaththath juga mengeluhkan status tersangkanya yang sampai hari ini belum diadili. Padahal kasus yang menjeratnya itu sudah hampir setahun berlalu.

“Status saya sampai hari ini masih tersangka. Tapi belum diajukan ke pengadilan,” ucapnya.

Al Khaththath kemudian menceritakan kronologi penangkapannya pada dini hari sebelum Aksi 313 tahun lalu. Dia ditangkap oleh tim jajaran Polda Metro Jaya saat sedang bermalam bersama istrinya di sebuah kamar di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.

Baca Juga:  Yunarto Wijaya: Pengecut Kalian yang Berlindung di Balik Status Ratna Sarumpaet sebagai Pembuat Hoax Tunggal

Al Khaththath ditangkap atas dasar tuduhan makar. Dia merasa heran dengan sangkaan makar yang disematkan pada dirinya dan sejumlah orang lainnya yang ikut ditangkap di tempat berbeda.

“Saya dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya. Polisi dari menyampaikan surat saya baca dulu, (tertulis) Al Khaththath melakukan tindakan makar. Lalu saya bilang wah ini surat enggak bener,” ujarnya.

Al Khaththath kemudian dibawa ke Rumah Tahanan Markas Korps Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Selang beberapa hari, Al Khaththath dipindahkan ke Rumah Tahanan Polda Metro Jaya.

Selama ditahan, dia mengaku hanya sekali diperiksa.

“Selama saya ada tiga setengah bulan dalam tahanan, cuma diperiksa sekali, itu hari itu saja (saat penangkapan),” kata dia.

Baca Juga:  ACTA Jadi Tim Pembela Warga Pemasang Spanduk Tolak Salatkan Jenazah

Pria kelahiran Pasuruan, 12 Juni 1964 itu ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan Pasal 107 dan 110 KUHP. Polisi menduga Al Khaththath berniat menggulingkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam Aksi 313.

Setelah dibebaskan, Al Khaththath kembali aktif dalam kelompok yang rutin membuat aksi unjuk rasa berjilid. Al Khaththath pun terlibat dalam kegiatan Kongres Alumni 212 dan Reuni Alumni 212 pada awal Desember 2017 lalu.