Kriminal

Dituntut 2 Tahun Penjara, Jonru: Jaksa Bukan Tuhan, Saya Tak Peduli!

jonru
Terdakwa kasus dugaan ujaran kebencian Jon Riah Ukur (Jonru Ginting) mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (22/1/2018). (Foto: Antara Foto/Dhemas Reviyanto)

Jurnalindonesia.co.id – Tersangka kasus dugaan tindak pidana ujaran kebencian, Jon Riah Ukur alias Jonru Ginting, dituntut dua tahun tiga bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Selain itu Jaksa juga menuntut hukuman denda Rp 50 juta kepada Jonru.

Menanggapi tuntutan yang dibacakan Jaksa Zulkifli tersebut, Jonru dengan tenang mengaku tak peduli.

“Saya hanya percaya penilaian Allah terhadap saya, dan jaksa itu bukan Tuhan. Jadi, saya tidak peduli,” kata Jonru usai jalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (19/2).

Ditanya soal persiapan sidang pembelaan atau pleidoi, Jonru kembali menegaskan bahwa dirinya tidak percaya terhadap jaksa.

“Tunggu saja minggu depan, saya hanya percaya dengan penilaian Allah, dan jaksa itu bukan Tuhan apapun yang mereka katakan saya enggak peduli yang saya percaya adalah penilaian Allah kepada saya. Bahwa saya membela kebenaran,” ujarnya.

Baca Juga:  Pengadilan Tinggi Tolak Banding yang Diajukan Buni Yani

“Takbir, Allahu Akbar, takbir, Allahu Akbar, takbir, Allahu Akbar,” teriak Jonru di dalam ruang sidang.

Jon Riah Ukur alias Jonru Ginting menjalani sidang kasus dugaan ujaran kebencian

Jon Riah Ukur alias Jonru Ginting menjalani sidang kasus dugaan ujaran kebencian di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (19/2). (Foto: istimewa)

Sementara itu, kuasa hukum Jonru, Djuju Purwantoro, mengaku sudah melakukan berbagai persiapan menghadapi sidang pleidoi yang akan digelar pada Senin (26/2) mendatang.

“Kita akan siapkan nota pembelaan atau pleidoi Senin yang akan datang itu berdasarkan tuntutan Jaksa pada hari ini kita akan lakukan tangkisan pembelaan,” kata Djuju.

Djuju menilai, semua tuntutan jaksa bertentangan dengan fakta dan terlalu mengada-ada.

“Postingan yang dianggap jaksa berdampak menimbulkan kebencian dan permusuhan tidak ada buktinya, tidak ada suatu akibat hukum yang ditumbulkan karena dakwaan di Pasal 28 Ayat (2) itu,” kata Djuju.

“Bila dibilang menimbulkan kebencian dan permusuhan buktinya di mana, kan tidak ada faktanya,” imbuhnya.

Baca Juga:  Tak Ikhlas Divonis 1,5 Tahun, Jonru: yang Menzalimi Saya akan Mendapat Azab

Pada Senin (19/2/2018), tim jaksa penuntut umum (JPU) Pengadilan Negeri Jakarta Timur menyampaikan tuntutannya atas terdakwa kasus ujaran kebencian, Jonru Ginting.

Jaksa menuntut agar Jonru dihukum dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta.

Jaksa menilai, Jonru terbukti dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian.

Selain itu Jaksa juga menganggap Jonru telah menyebarkan informasi yang bisa memicu permusuhan individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan, suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Masing-masing tindakan tersebut dianggap terbukti berhubungan sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.

“Terdakwa secara sah dan terbukti menyebarkan informasi untuk memancing kebencian dan permusuhan baik secara individu dan kelompok sehingga atas perbuatanya tersebut harus dipertanggungjawabkan,” kata Zulkifli selaku jaksa penutunt umum, Senin (22/1/2018).

Menurut jaksa, tuntutan ini disusun berdasarkan sejumlah bukti, di antaranya berupa postingan di media sosial.

Baca Juga:  Tak Akan Minta Maaf, Tempo: Kami Tak Tunduk pada Tekanan FPI

Selain itu, bukti berupa keterangan para saksi ahli termasuk pelapor, ahli, dan fakta persidangan.

“Menurut ahli bahasa dan pelapor, postingan terdakwa mengenai Presiden Jokowi yang menyebutkan asal usul orang tua Jokowi tidak jelas, mengandung kebencian,” kata Zulkifli.

Di samping itu, jaksa menyampaikan pertimbangannya mengapa menuntut Jonru dihukum dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta.

“Ada pertimbangan yang meringakan, ada yang memberatkan. Untuk pertimbangan yang memeberatkan ada tiga poin, yakni perkara ini termasuk perkara yang menarik perhatian masyarakat, terdakwa tidak merasa bersalah, dan terdakwa tidak menyesali perbuatannya,” lanjut Zulkifli.

Sementara itu, hal yang menjadi pertimbangan meringankan, terdakwa Jonru merupakan tulang punggung keluarga dan belum pernah dihukum sebelumnya.