Kriminal

Viral Video Biksu Dilarang Beribadah dan Diusir, Polisi: Hanya Salah Paham Saja

Jurnalindonesia.co.id – Sebuah video seorang biksu dilarang beribadah dan diusir oleh ormas dari tempat tinggalnya membuat heboh media sosial.

Dalam video tampak biksu tersebut membaca surat pernyataan yang isinya bersedia meninggalkan Kampung Babat, Kecamatan Legok, Tangerang terhitung satu minggu sejak tanggal 4 Februari. Selain itu berjanji untuk tidak melakukan ibadah atau ritual agama serta kegiatan yang melibatkan umat Buddha lantaran dianggap menimbulkan keresahan warga desa Babat.

Jika melanggar, demikian isi surat pernyataan tersebut, maka biksu tersebut siap untuk diproses secara hukum.

Setelah membaca keseluruhan isi, biksu itu menandatangani surat tersebut.

Berikut videonya:

Video berdurasi 1 menit 15 detik itu viral di sejumlah platform media sosial. Sebagian besar mengecam aksi tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk kesewenang-wenangan.

Penjelasan polisi

Polisi sendiri sudah mengeluarkan pernyataan atas kasus tersebut. Kapolres Tangerang Selatan AKBP Fadli Widiyanto menyatakan, perkara tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Hanya salah paham saja, sudah diselesaikan secara musyawarah dan sudah selesai,” kata Fadli kepada wartawan, Sabtu (10/2/2018).

Menurut Fadli peristiwa yang ada di dalam video tersebut terjadi pada Rabu (7/2/2018) lalu. Bermula dari adanya penolakan warga Desa Babat, Kecamatan Legok.

Warga menolak rencana kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru, Desa Babat.

Selain itu warga juga sempat tidak menerima kehadiran Mulyanto Nurhalim selaku biksu di kampung tersebut. Kehadirannya dianggap meresahkan lantaran diduga biksu tersebut akan mengajak orang lain untuk masuk agama Budha.

“Ada penolakan dari masyarakat atas segala macam kegiatan keagamaan serta perkumpulan umat Budha di kediaman Mulyanto Nurhalim alias Biksu/Bhante karena rumah tersebut dihuni untuk tempat tinggal bukan dijadikan tempat ibadah,” tutur Fadli.

Pihak kepolisian kemudian mengumpulkan masyarakat dan tokoh setempat. Sejumlah tokoh agama diajak untuk bermusyawarah agar kejadian tersebut tidak menjadi isu yang berkepanjangan dan semakin meluas.

Pada Rabu (7/2) pukul 14.10 WIB musyawarah digelar di ruang kerja Camat Legok di Jl Alun-alun Desa Caringin, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Acara tersebut dihadiri 16 orang, di antaranya Kapolsek Legoj AKP Murodih, Camat Legok H Nurhalim, Ketua MUI Legoj KH Odji Madroju, Kades Babat H Sukron Ma’mun, Romo Kartika toga umat Budha Jakarta.

Menurut Fadli, warga sempat mencurigai biksu tersebut melakukan ibadah dengan mengundang jemaat dari luar. Namun, teryata tidak seperti kenyataannya. Mereka datang ke rumah biksu tersebut cuma untuk memberi makan biksu saja.

“Di kediaman Biksu Mulyanto Nurhalim sering dikunjungi umat Budha dari luar kecamatan Legok terutama pada hari Sabtu dan Minggu untuk memberikan makan kepada Biksu dan minta didoakan, bukan melaksanakan kegiatan ibadah. Hal ini dapat dimaklumi karena Biksu tidak boleh pegang uang dan beli makanan sendiri,” tuturnya.

Warga juga semula sempat memberi tenggang waktu kepada biksu untuk meninggalkan kampung tersebut. “Biksu tersebut adalah warga asli Desa Babat dan sudah memiliki KTP dan memiliki hak tinggal di Desa Babat,” katanya.

Setelah musyawarah, polisi dan seluruh elemen masyarakat setempat memastikan bahwa rumah Biksu Mulyanto bukan rumah ibadah seperti kecurigaan warga. Sementara dalam musyawarah itu disepakati agar Mukyanto tidak menyimpan ornamen yang menimbulkan kecurigaan warga.

“Ornamen yang menyerupai kegiatan ibadah umat Budha agar tidak mencolok yang dapat menjadi bahan kecurigaan warga (di singkirkan ke dalam rumah agar tidak terlihat seperti patung dan lain-lain,” tuturnya.

Fadli memastikan persoalan tersebut telah selesai. Warga pun meminta maaf atas kesalah pahaman terhadap Mulyanto ersebut.

“Semua menyatakan permasalahan selesai dan saling menyadari kesalahan yang ada kemudian saling memaafkan,” pungkasnya.

Video klarifikasi tokoh agama dan Kapolres Tangerang Selatan:

Loading...