DKI Jakarta, Nasional

BBWSCC Belum Memahami Konsep ‘Naturalisasi’ Sungai ala Gubernur Anies

Normalisasi Sungai Ciliwung di Kawasan Raden Saleh, Jakarta.
Normalisasi Sungai Ciliwung di Kawasan Raden Saleh, Jakarta. (Foto: istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Banjir yang kembali melanda DKI Jakarta lantaran tingginya curah hujan di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, memunculkan kembali perbincangan soal normalisasi sungai.

Normalisasi sungai disebut-sebut sebagai salah satu solusi untuk mengatasi banjir di Ibu Kota.

Diketahui, normalisasi sungai sempat terhenti sejak pertengahan 2017 lalu. Dan kembali dilanjutkan setelah Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memegang tampuk pemerintahan di DKI. Namun, Anies sendiri memiliki konsep berbeda dalam menormalisasi sungai di Jakarta. Tidak seperti Gubernur sebelumnya yang menggusur warga dari bantaran sungai.

Kendati demikian, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Djarot mengatakan, saat ini pihaknya masih menunggu penjelasan dari Gubernur DKI terkait konsep normalisasi 13 sungai di Jakarta.

Anies sebelumnya menyebut normalisasi sungai sebagai ‘naturalisasi’ tanpa menggusur warga, terutama proyek Sodetan Kali Ciliwung.

Berdasarkan informasi terakhir dari masyarakat yang terkena sodetan Kali Ciliwung, kata Djarot, pembebasan lahan sudah bisa dilakukan. Namun, lantaran Anies ingin menaturalisasi sungai tanpa menggusur, pembebasan lahan terpaksa dihentikan.

Baca Juga:  PKS Klaim Posisi Wagub DKI, Taufik: Sudah Seperti Pemburu Jabatan Saja

“Saya belum tahu apakah benar-benar tidak menggusur dengan tidak memindahkan atau pemindahan, tapi dengan pendekatan yang berbeda dari gubernur sebelumnya,” ujar Djarot, Selasa (6/2/2018).

Djarot menjelaskan, sodetan Kali Ciliwung sudah dikerjakan sepanjang 600 meter dari total 1,27 kilometer atau 54,7%. Pihaknya bersama Pemprov DKI juga mengerjakan proyek normalisasi sungai sepanjang 33 km. Hingga saat ini yang sudah dikerjakan baru 17 km, di antaranya Kali Krukut, Kali Angke, dan Kali Pesanggrahan.

“Semuanya kita serahkan kepada Pemprov DKI mana yang jadi prioritas. Nanti kalau sudah ada prioritas kami segera bebaskan lahan, laporan ke Menteri PUPR lalu mulai bangun normalisasi. Ini berjalan terus,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Isnawa Adji. Dia juga mengaku belum bisa memastikan seperti apa konsep naturalisasi sungai yang dikemukakan Anies.

Baca Juga:  Momen Saat Anies-Sandi Disoraki di Open House Jokowi

“Bayangan saya, Pak Gubernur ingin mengembalikan fungsi bantaran sungai sebagai daerah resapan air, kawasan hijau, dan mengembalikan ekosistem sebagaimana kondisi alamiahnya lagi,” kata Adji kepada detikcom, Kamis (8/2/2018).

“Pak Gubernur tidak mau semua titik di pinggir sungai itu dibangun dinding turap. Kalau memang kondisi alamiahnya ada tanah dan pepohonan, maka itu bisa dikembalikan fungsinya untuk ekosistem yang lebih baik,” lanjut Adji.

“Normalisasi lebih kepada penataan sungai itu sendiri. Tapi kalau menaturalisasi, maka banyak aspek yang berkaitan dengan sungai yang dikembalikan ke fungsinya, termasuk kebersihan, penghijauan, hingga interaksi warganya. Jadi naturalisasi sifatnya lebih holistik,” tuturnya.

Kendati demikian, Isnawa mengaku pemaknaan istilah naturalisasi tersbeut bukan dari penjelasan Gubernur Anies, melainkan dari pendapatnya sendiri. Sebab, kata dia, hingga kini belum ada rapat pembahasan soal naturalisasi sungai.

Baca Juga:  Renovasi Trotoar Tak Kunjung Kelar Jelang Asian Games, Wakapolri Akan Temui Anies

Diketahui, proyek pengerjaan Sodetan Ciliwung terhenti sejak pertengahan tahun lalu lantaran warga RW 04 Bidara Cina, Jakarta Timur, mengajukan class action sebagai bentuk penolakan penggusuran. Warga mengajukan gugatan class action di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Akhir Agustus 2017, Majelis Hakim PN Jakarta Pusat menyidangkan perkara gugatan class action warga Bidaracina melawan Pemerintah DKI. Pada 29 Agustus 2017, PN Jakarta Pusat memutuskan mengabulkan gugatan warga tersebut. Akibatnya, proyek pengerjaan sodetan terhenti di sepanjang 600 meter dari total 1,27 kilometer atau 54,7%.