Kriminal, Politik

Fahira Idris: Kasus Penganiayaan 2 Ulama Jabar Patut Dicurigai

Fahira Idris
Anggota DPD RI, Fahira Idris, Fahira Idris. (Foto: istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Ketua Komite III DPD RI yang membidangi keagamaan, Fahira Idris, menyampaikan duka mendalam atas terjadinya insiden penganiayaan dua ulama di Jawa Barat baru-baru ini.

Dua ulama tersebut adalah Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong). Ia menjadi korban penganiayaan usai Shalat Subuh di masjid pada Sabtu (27/1).

Baca: Fakta Penganiayaan KH Umar Basri, Pelaku Alami Gangguan Jiwa Hingga Kejanggalan Kasus Penganiayaan

Kedua, Komando Brigade PP Persatuan Islam (Persis), Ustaz Prawoto. Prawoto meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat dianiaya seorang pria pada Kamis (2/1) pagi. Pelaku berinisial AM diduga melakukan pemukulan terhadap korban di kawasan Bandung, Jawa Barat.

Hasil penyelidikan kepolisian mengungkap, dua pelaku dalam dua kejadian tersebut adalah penderita gangguan kejiwaan.

Namun nampaknya Fahira kurang puas dengan penjelasan kepolisian tersebut. Fahira meminta peristiwa dua penganiayaan yang terjadi salam waktu yang berdekatan tersebut harus dipandang luas dan dari berbagai sudut pandang. Sehingga tidak mudah menyimpulkan kejadian-kejadian ini hanya peristiwa kriminal biasa.

Fahira meminta polisi mengusut kedua kasus kriminal ini sampai tuntas. Dia meminta aparat keamanan menjaga kondusifitas Jawa Barat menjelang pilkada serentak pada 27 Juni 2018 mendatang.

“Peristiwa sekecil apapun menjelang pilkada serentak ini, apalagi yang berpotensi memancing kemarahan warga, patut dicurigai dan harus diusut tuntas,” kata Fahira di Jakarta, Sabtu (3/2).

Meskipun kedua orang penganiaya ini oleh polisi dinyatakan menderita sakit jiwa atau gila, Fahira meminta proses hukum harus tetap berjalan.

Biarkan nanti pengadilan yang memutuskan, berdasarkan fakta-fakta medis dan fakta lainnya di persidangan, apakah kedua pelaku penganiayaan itu benar-benar sikat jiwa atau tidak.

“Kita patut waspada, namun tetap harus tenang dan segera memetakan persoalan serta mencari solusinya agar para ulama dan ustaz bisa beraktivitas dengan tenang,” ujar Fahira.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Polisi Mohammad Iqbal, menyatakan bahwa dua kejadian penganiayaan pemuka agama dalam waktu yang secara berdekatan di Bandung, Jawa Barat adalah kebetulan.

Diketahui, kedua peristiwa tersebut terjadi usai shalat Subuh.

“Ini secara kebetulan ya, ada penganiayaan yang korbannya kebetulan tokoh agama, dan dua dua pelakunya mengalami gangguan jiwa,” kata Iqbal di Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat (2/2).

Iqbal menegaskan, kesimpulan tersebut diambil setelah pihak kepolisian menelita secara detail sejumlah alat bukti yang dikumpulkan.

“Karena dirawat di RS jiwa. Setelah didiagnosis mengalami depresi mental, ada track record-nya sering mengamuk dan lain lain,” kata Iqbal.

Namun, kata Iqbal, seandainya ada fakta lain yang ditemukan, Iqbal memastikan polisi akan menindaklanjuti.

“Saat ini, pelaku semua sudah kami tangkap dan yang terakhir ini adalah pelaku A, definitif mengalami gangguan jiwa,” kata Iqbal.

Baca juga: Seorang Ustaz Ditebas Parang Ketika Hendak Hadiri Pengajian

Loading...