Kriminal

Polri Keluarkan SP3 kepada Ahok Atas Dugaan Penistaan Agama

Polri Keluarkan SP3 kepada Ahok Atas Dugaan Penistaan Agama
Polri Keluarkan SP3 kepada Ahok Atas Dugaan Penistaan Agama

Jurnalindonesia.co.id – Polri memberikan keputusan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Hal tersebut terkait laporan Sekretaris DPD Front Pembela Islam (FPI) Jakarta Novel Bamukmin atas kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh mantan Gubernur DKI itu.

Novel menyesalkan keputusan Polri tersebut. Dia menilai, keputusan itu sebagai bukti polisi sebagai aparat penegak hukum berpihak kepada Ahok yang telah menghina Al-Maidah dalam persidangan.

“Satu lagi keputusan Polri yang berpihak kepada penista agama dengan memberikan SP3 (surat perintah penghentian penyidikan, red) kepada Ahok,” kata Novel, Minggu (28/1).

“Padahal, jelas dikatakan oleh Ahok bahwa Al-Maidah adalah pemecah belah bangsa,” imbuh dia.

Novel Chaidir Hasan Bamukmin

Sekjen DPD FPI Jakarta Novel Chaidir Hasan Bamukmin

Novel menyatakan, Ahok yang menjadi terpidana kasus penodaan agama pernah berulah di persidangan dengan menyebut Surah Almaidah sebagai pemecah belah bangsa.

“Dalam persidangan jelas Ahok telah menghina kembali Almaidah,” kata Novel selaku pelapor kasus tersebut.

Pria yang akrab disapa Habib Novel itu melaporkan Ahok pada 14 Desember 2016 lampau. Laporan itu didasari pada pernyataan Ahok saat masih berstatus terdakwa dan menjalani persidangan.

Baca Juga:  Perakit Bom Thamrin Mengaku Targetnya Ngebom Gedung DPR

Dalam surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan (SP2HP) dari pihak Kepolisian Badan Reserse Kriminal Polri yang dibuat pada tanggal 24 Januari 2018, berisikan perkembangan hasil penyelidikan terkait laporan Novel atas kasus tindak pidana Penistaan Agama Islam kepada terduga Ahok.

Berdasar surat tersebut, penghentian penyelidikan dikarenakan ucapan Ahok bukanlah kategori tindak pidana. Penyidik menganggap pernyataan Ahok adalah pembelaan di persidangan.

“Pernyataan berupa eksepsi di persidangan merupakan hak terdakwa yang dijamin KUHAP,” kata penyidik dalam SP2HP yang dikirim ke Novel.

sp3 untuk ahok

Surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan (SP2HP) kasus dugaan penodaan agama yang menjerat Basuki T Purnama. (Foto: Novel Bamukmin for JPNN)

Dalam penyelidikan, pihak Kepolisian sudah melakukan wawancara dengan tiga orang yang merupakan saksi, yakni Novel Chaidar Hasan sebagai saksi pelapor, Dahlan Pido, dan Yeyet Nurhayati. Selain itu polisi juga telah meminta keterangan Made Darma Weda selaku Ahli Hukum Pidana.

Selain wawancara, kepolisian juga telah memeriksa sebuah barang bukti berupa flashdisk yang berisi rekaman video terlapor saat persidangan. Video tersebut dapat juga dilihat dalam situs video Youtube dengan judul ‘Baca Eksepsi, Ahok Kutip Isi Bukunya Soal Berlindung di Balik Ayat Suci‘. Kepolisian pun telah memeriksa sebuah e-book terlapor yang berjudul ‘Merubah Indonesia’ serta rekaman suara terlapor saat menjalani persidangan pada tanggal 13 Desember 2016.

Baca Juga:  Soal Aturan Cuti Kampanye, Yusril: Saya Akan Bantah dan Lawan Argumentasi Ahok di MK

Setelah melakukan penyelidikan dan pemeriksaan, kepolisian menyimpulkan bahwa apa yang diucapkan Ahok adalah eksepsi atau tangkisan. Yang mana, eksepsi tersebut dibuat atas perintah hakim dan sah saja jika Ahok menyampaikan kalimat pembelaan.

Pernyataan berupa eksepsi di persidangan disebut merupakan hak terdakwa yang dijamin KUHAP dan tidak dapat disebut sebagai tindak pidana selama disampaikan di persidangan tidak ada teguran dari hakim. Dari situ Polisi menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan Ahok bukan termasuk tindakan pidana.

Selanjutnya dalam surat tersebut juga dituliskan sebuah pemberitahuan kepada Novel bselaku pelapor bahwa perkara yang dilaporkan oleh penyidik dihentikan penyelidikannya. Hal ini mengacu pada hasil yang sudah disebutkan di atas.

Dalam video yang disebutkan sebagai salah satu bukti, Ahok menyebutkan ada ayat yang digunakan sebagai pemecah belah rakyat dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan. Hal ini dipercayai dilakukan oleh oknum-oknum elit yang tidak bisa bersaing dengan visi, misi, serta program dan integritas.

Baca Juga:  Seorang Pemuda Mengaku Anggota FPI Hampir Dikeroyok Warga Saat Ahok Kampanye di Pejaten

Berikut ungkapan lengkap Ahok dalam video berdurasi 1:21 menit yang diunggah dengan judul ‘Baca Eksepsi, Ahok Kutip Isi Bukunya Soal ‘Berlindung di Balik Ayat Suci” di situs Youtube.

“… tulis pada tahun 2008. Saya harap dengan membaca tulisan di buku tersebut niat saya yang sesungguhnya bisa dipahami dengan jelas. Isinya sebagai berikut, saya kutip, ‘Selama karir politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti pemilu, kampanye pemilihan Bupati bahkan sampai Gubernur, ada ayat yang sama yang saya begitu kenal digunakan untuk memecah belah rakyat dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan roh kolonialisme. Ayat ini sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elit karena tidak bisa bersaing dengan visi, misi, program, dan integritas, …”. //

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak kepolisian menyangkut pemberian SP3 kepada Ahok.

Terdakwa kasus dugaan penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat mengikuti sidang pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017).

Terdakwa kasus dugaan penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat mengikuti sidang pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017). (Foto: Kompas/Kristianto Purnomo)