Daerah, Jawa Barat, Kriminal

Fakta Penganiayaan KH Umar Basri, Pelaku Alami Gangguan Jiwa Hingga Kejanggalan Kasus Penganiayaan

Pimpinan Ponpes Al Hidayah Cicalengka KH Umar Basri dianiaya pria tak dikenal. (Foto: istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Pengasuh pondok pesantren Al Hidayah di Cicalengka Kabupaten Bandung, KH Umar Basri, dianiaya oleh seseorang saat berzikir usai salat subuh di Masjid Al Hidayah, Kampung Satinong Rt 03/01, Desa Cicalengka, Kabupaten Bandung, Sabtu (27/1/2018) sekitar pukul 05.10 WIB.

Berikut sejumlah fakta yang terungkap mengenai aksi keji tersebut:

1. Kronologi

Berdasarkan keterangan Kapolda Jabar, Irjen Pol Agung Budi M, Minggu (28/1/2018), kejadian penganiayaan itu terjadi sekitar pukul 05.30 WIB.

Saat itu korban selesai salat Subuh berjamaah bersama para santri. Setelah berdoa dengan para santri, KH Umar Basri seperti biasa melakukan wirid sendirian di dalam masjid.

Saat wirid, korban terbiasa mematikan lampu agar lebih khusyu.

Selesai itu, para santri kembali mengikuti kegiatan mengaji sebagaimana yang terjadwal di pesantren.

Kira-kira pukul 05.10 WIB, saat korban sedang wirid, pelaku menunggu korban sampai selesai wirid.

Setelah itu korban bertanya kepada pelaku “saha anjeun? (Siapa kamu)? Pelaku menjawab “Saya orang sini, kamu berani sama saya? (Menggunakan bahasa Sunda).”

Pada saat itu juga pelaku langsung menganiaya korban menggunakan kayu alas kaki buat adzan.

Korban dipukul perutnya satu kali, kemudian memukul kepala korban sebanyak dua kali.

Setelah menganiaya korban, pelaku langsung keluar masjid.

“Menurut keterangan, pelaku ini tidak ikut salat subuh,” ujar Irjen Pol Agung Budi M.

Beberapa saat setelah kejadian, ada yang melapor kasus penganiayaan ke polres.

Ada enam santri yang saat itu ikut berjamaah bersama korban.

Seorang santri berinisial T, adalah saksi yang melihat langsung kejadian.

Baca Juga:  Soal Pohon Imitasi, Anies: Petugas Masang Tanpa Pemberitahuan dan Izin

Saksi melihat langsung siapa yang berada berdua di dalam masjid bersama korban.

2. Kejanggalan

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat, Kombes Umar Surya Fana mengatakan, ada kejanggalan dalam kasus penganiayaan ini. Pasalnya, tempat seperti Ponpes merupakan tempat tertutup, sehingga mestinya orang yang ada di situ sudah selayaknya mengenal satu sama lain.

“Itu kan ruang tertutup, artinya bukan di pinggir jalan artinya itu kan di dalam Pondok pesantren, nah harusnya pondok pesantren kan sekurang-kurangnya saling kenal, masa ya ada orang masuk ponpes ko gak ada yang kenal si pelaku,” kata Umar kepada Jawa Pos, Minggu (28/1).

Mantan Kapolres Bekasi juga berpendapat, jika ada orang tak dikenal masuk ke area Ponpes sudah selayaknya petugas keamanan maupun para pengelola melakukan pengecekan terhadap yang bersangkutan. Sehingga dapat diketahui identitas dan tunjuan orang tersebut masuk ke area pondok.

“Harusnya ketika ada orang masuk pesantren gak dikenal kan harusnya ditanya. Ini juga kan gak sama sekali, ini juga yang memancing pertanyaan dari kami, kok ada orang masuk ke Ponpes menganiaya pimpinannya tapi gak ada yang kenal,” lanjut Umar.

Kendati demikian Umar menolak untuk menyimpulkan bahwa penganiayaan ini terjadi akibat kelalaian penjaga keamanan ponpes. Umar menyatakan pihaknya belum melakukan pendalaman terkait aturan yang berlaku di pesantren Al Hidayah.

Kapolda Jabar, Irjen Pol Agung Budi M beserta Kapolres Cirebon Kota, AKBP Adi Vivid AB, dan jajaran PBNU Cirebon saat menunjukkan pelaku penganiayaan terhadap KH Umar Basri, di Polres Cirebon Kota, Minggu (28/1/2018). (Foto: Siti Masithoh/Tribun Jabar)

3. Terduga pelaku ditangkap

Terduga pelaku penganiayaan KH Umar Basri ditangkap beberapa jam usai kejadian. Dia dibekuk petugas di sebuah musala berjarak sekitar 2 km dari lokasi penganiayaan.

Baca Juga:  Ratna Sarumpaet: Mudah-mudahan Saya Dikasih Keadilan oleh Allah

Saat ditangkap, terduga pelaku berinisial A ini mengakui memukul Kyai Umar.

Ketika tangan A dicek, terdapat luka memar dan tidak beraturan di pergelangannya.

4. Alami gangguan jiwa

Ada kemungkinan pelaku mengalami gangguan jiwa. Demikian dinyatakan Kapolda Jabar, Irjen Pol Agung Budi Maryoto.

“Karena ada hal yang menurut penyidik saat ditanya tidak tahu rumah, ditanya A dijawab tidak beraturan, maka tersangka dibawa ke Bandung untuk ditanyai keterangan awal. Kami memanggil psikiatri, dr Liani Wijaya spesialis kesehatan jiwa,” kata Agung di Cirebon, Minggu (28/1/2018), via keterangan resminya dari Humas Polda Jabar.

Hasil pemeriksaan awal terhadap kondisi kesehatan jiwa yang dilakukan psikiatri di antaranya terduga memiliki jasmani normal. Namun, pelaku seperti orang linglung, tidak mengerti pertanyaan, dan pernyataannya tidak terstruktur.

“Sementara dapat disimpulkan bahwa tersangka A ini alami gangguan jiwa berdasarkan pemeriksaan awal dari dokter spesialis kejiwaan,” kata Agung Budi Maryoto.

Senin, 29 Januari 2018, terduga pelaku akan kembali menjalani pemeriksaan psikiatri secara mendalam.

“Hasilnya akan jadi bahan untuk tindak lanjut ke depan,” ujar Kapolda.

Baca selengkapnya: Polisi Ungkap Pelaku Penganiaya Pengasuh Ponpes Al Hidayah KH Umar Basri

5. Keluarga korban ikhlas

Pihak keluarga korban menganggap penganiayaan yang terjadi adalah murni sebuah musibah.

Baca Juga:  Marwah Daud Ibrahim: Dimas Kanjeng Tidak Menggandakan Uang Tapi Menghadirkan, Itu Karomah

“Informasi dari polisi, penganiayaan abah (Kyai Umar) ini musibah, kami kembalikan lagi ke Allah S.W.T karena intinya (pelaku) tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya karena kondisi pelaku perlu dites kejiwaan,” kata santri perwakilan Pesantren Al Hidayah, Iwan Ismail, di Cicalengka, Minggu (28/1/2018).

Menurutnya, fokus keluarganya saat ini adalah kesembuhan KH Umar Basri yang saat ini masih dirawat intensif di RS Al Islam Bandung.

“Terpenting, mudah-mudahan kondisi abah segera membaik dan kembali pulang ke rumah,” ujarnya.

KH Umar Basri di ruang perawatan RS Al Islam, Kota Bandung.

KH Umar Basri di ruang perawatan RS Al Islam, Kota Bandung.

Kondisi KH Umar Basri saat ini sudah relatif membaik dari sehari sebelumnya. Umar juga sudah bisa menerima tamu dan berkomunikasi dengan mereka meski terbatas.

Alhamdulillah, berkat doa dan dorongan semua pihak kondisi abah sudah membaik, sudah bisa duduk dan bisa makan (yang cair). Komunikasi bisa tapi harus lewat tulisan, mudah-mudahan kondisi ke depan berangsur membaik,” kata Iwan Ismail.

Pihak keluarga kata dia, meminta semua pihak untuk tidak mengkaitkan kejadian ini dengan hal-hal yang di luar perkiraan.

Pihaknya percaya polisi bisa menangani kasus ini sebaik mungkin. Kejadian ini juga sebagai pelajaran agar ke depan bisa lebih berhati-hati.

“Kepada semua pihak kami harap tenang dan tidak terlalu menjadikan ini hal di luar perkiraan. Ini murni musibah, tidak ada kaitannya dengan hal lain karena selama ini abah tidak pernah punya musuh atau lawan politik atau apapun,” ujar Iwan.