DKI Jakarta, Ekonomi dan Bisnis

Becak di DKI, Sutiyoso: Kalau Sudah Terlanjur Banyak Akan Sulit Mengatasinya

Mantan Gubernur DKI Sutiyoso

Gubernur DKI Anies Baswedan mengemukakan wacana untuk kembali mengizinkan becak beroperasi di Jakarta.

Saat ini, becak memang dilarang beroperasi di DKI. Larangan tersebut tertuang dalam dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Tak hanya pengoperasiannya, aturan tersebut juga melarang melarang perakitannya.

Tidak heran jika kemudian wacana yang dilontarkan Anies terkait becak itu menuai kontroversi.

Bagaimana mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso memandang wacana kebijakan tersebut? Berikut penuturan lengkapnya sebagaimana terangkum dalam wawancara dengan redaski RMOL, Rabu 24 Januari 2018:

Tanggapan Anda terkait wacana yang dilontarkan Gubernur Anies, yang akan mengizinkan becak kembali beroperasi di Jakarta?

Mantan Gubernur DKI Sutiyoso

Mantan Gubernur DKI Sutiyoso

Intinya bahwa larangan becak itu ada Perda-nya sebagai lan­dasan hukum. Dan itu dibuat saat gubernurnya Pak Soerjadi. Nah, pada saat saya jadi gubernur, itu kan lagi krisis politik, ekonomi, hingga jadi krisis multidimensi. Jadi pengangguran merajalela di Jakarta.

Makanya saya pikir, kenapa becak tidak diizinkan saja lagi untuk memberi peluang orang kerja. Terus saya batasi itu tempat operasinya, misalnya di gang perumahan dan di pinggir kota seperti Tangerang, Depok, Bekasi. Ternyata pemberian izin itu malah membuat keadaan jadi semrawut.

Semrawut bagaimana? 

Saya lihat di Gunung Sahari itu banyak becak dikeluarkan dari truk. Jadi rupanya izin itu malah membuat penduduk dari daerah nyerbu Jakarta.

Lalu becak yang harusnya beroperasi di gang-gang itu malah beroperasi di dalam kota. Karena yang menggunakan jasa mereka buat masuk kan cuma beberapa, sementara tukang be­cak yang mangkal banyak.

Jadi mereka ambil kalau ada orang yang mau pakai jasanya di jalan raya. Dan suka berlawanan arah lagi. Akhirnya banyak juga kan tukang becak yang keluar ke jalan protokol. Lalu melawan arus lagi.

Ternyata setelah mengelu­arkan izin terbatas itu saya malah jadi kewalahan. Becak jadi marak lagi, karena kan satu keluar, maka yang lain juga ikut keluar. Akhirnya tidak ada cara lainnya, saya larang lagi becak itu. Saya kasih peringatan lagi, tapi tetap saja mereka bandel. Akhirnya saya sikat, saya masu­kan ke laut semua becaknya.

Memangnya saat itu tidak ada cara mengaturnya supaya mereka bisa tertib?

Berdasarkan pengalaman saya yang namanya ngatur tukang becak itu sangat sulit. Dulu sudah ada aturannya tapi tetap dilanggar kok. Naluri mereka untuk melanggar aturan itu sangat tinggi.

Kami waktu itu sudah nga­wasin mereka dengan ketat, kami sudah turunkan Satpol PP, tapi tetap saja tidak bisa diatur. Akhirnya kami capek lah ma­kanya kemudian kami larang saja. Jadi saya kira kalau nanti diizinkan lagi bisa berulang sep­erti pengalaman saya itu. Kalau sudah terlanjur banyak, akan sulit bagi Pemprov DKI untuk mengatasinya.

Berarti Anda tidak setuju dengan wacana pemberian izin becak ini? 

Transportasi di Jakarta itu nanti ada MRT, LRT, monorel, transjakarta, angkot, taksi, ojek, dan berbagai transportasi on­line. Jadi sudah begitu banyak yang beroperasi. Orang Jakarta itu butuhnya cepat. Sementara becak ini tidak bisa memenuhi kebutuhan itu. Selain itu becak ini menurut pandangan saya adalah kerjaan yang sudah tidak manusiawi. Jadi menurut saya pengendara becak ini baiknya dialihkan ke profesi lain saja. Ini saya bukannya mau menggurui ya, bukannya mau mengkritik, tapi hanya berbagi pengalaman.

Berarti enggak tepat ya un­tuk jadi alat transportasi?

Yaaah… pandangan orang kan beda-beda. Gubernur sekarang mungkin pandangannya ber­beda. Tapi berdasarkan pengala­man saya seperti itu.

Kan katanya di luar negeri yang semacam becak itu di­bolehkan, meski sebagai obyek wisata. Itu bagaimana? 

Misalnya mau dibolehkan dimana? Monas? Museum Fatahilah Kota Tua? Orang kalau ke sana juga maunya jalan kaki, muter-muter. Kalaupun ada mau iseng-iseng kan hanya beberapa orang saja. Sementara tukang becaknya pasti banyak kan. Kan sudah ada berita yang menyata­kan banyak tukang becak siap ke Jakarta.

Karena becaknya banyak se­mentara penumpangnya sedikit kan akhirnya dia bakal nyari di luar juga. Karena kan dia harus cari makan buat keluarganya. Kalau sudah terlanjur banyak itu sulit sekali ngaturnya. Kecuali menerapkan tangan besi, dan itu enggak baik kan.

Intinya mungkin pengalaman saya itu perlu direnungkan, dikaji kembali. Karena kalau sudah terlanjur bisa kayak saya waktu itu, kewalahan. Akhirnya saya tangkapin semua becaknya, dan buang ke laut sana.

Loading...