Nasional

Dianggap Mirip Pohon Natal, 10 Pohon Cemara di Depan Komplek Masjid Agung Ditebang

Dianggap Mirip Pohon Natal, 10 Batang Pohon Cemara di Depan Komplek Masjid Agung Ditebang
Pohon cemara di pinggir jalan depan komplek Masjid Agung Meulaboh, Aceh ditebang pihak BKM masjid, 7 Januari 2018.

Sekitar 10 pohon cemara pantai yang ditanam Dinas Lingkungan Hidup Aceh Barat di pinggiran jalan di depan pagar Komplek Masjid Agung Meulaboh habis ditebang pihak BKM masjid.

Ketua Badan Kemakmuran Masjid ( BKM) Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh, Anwar, Selasa ( 16/1) mengungkapkan alasan pohon cemara tersebut ditebang yaitu lantaran menutupi halaman dan masjid agung.

Selain itu pohon-pohon tersebut kurang mendapat perawatan sehingga membuat kondisi di area masjid malah menjadi kotor.

Juga, kata Anwar, pohon cemara dianggap mirip dengan pohon natal.

Anggota DPRK Aceh Barat Azhar menyayangkan penebangan pohon–pohon tersebut apalagi dengan alasan yang kurang masuk akal.

“Katanya, pohon itu tumbuh begitu saja tanpa ada perawatan, air dari daun cemara yang menetes ke pagar melahirkan lumut dan pagar berkaratan lalu rusak,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari cakradunia.com.

Anwar menilai, selama ini pohon tersebut dijadikan tempat berteduh dari teriknya matahari oleh para pedagang buahan di sepanjang jalan depan masjid.

Selain itu, banyak tamu luar daerah yang memarkirkan kendaraan untuk menunaikan sholat di masjid, karena area tersebut sejuk dan terlindungi dari panasnya matahari.

Terkait alasan mirip pohon natal, Azhar mengaku prihatin dan sulit diterima akal.

“Kalau begitu kenapa tidak ditebang semua pohon cemara yang ada di Aceh Barat. Berapa banyak biaya perawatan selama ini dianggarkan, terbuang percuma begitu saja,” ujarnya dengan kesal.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Barat Adi Yunanda, SE, tidak menerima alasan penebangan pohon tersebut dikarenakan tidak ada perawatan. Menurutnya itu tidak benar.

“Selama ini, pohon dalam Kota Meulaboh semua ada pemeliharaannya. Kita disediakan dana pemangkasan Rp 7 juta per tahun dan biaya perawatan termasuk pupuk disediakan dana hingga Rp 15 juta per tahun,” ungkap Adi Yunanda.

Adi juga menyayangkan penebangan pohon cemara didepan komplek Masjid Agung Kota Meulaboh tanpa koordinasi dengan dinas yang dipimpinnya.

“Pohon cemara itu di luar perkarangan masjid, seharusnya ketua BKM masjid berkomunikasi dengan kami supaya bisa dicarikan solusinya. Untuk membiayai penanaman pohon cemara, Dinas Lingkungan Hidup Aceh Barat mengeluarkan biaya besar, lalu ditebang begitu saja oleh BKM masjid,” ujarnya heran.

Awalnya, Dinas Lingkungan Hidup berencana memangkas pohon yang telah menjulang tinggi. Namun, pihak BKM masjid justru menebangnya lebih awal pada 7 Januari 2018 lalu.

“Mudah-mudahan ke depan antara BKM masjid dengan DLH Aceh Barat dapat terjalin komunikasi yang baik demi untuk menciptakan keindahan lingkungan Kota Meulaboh,” ujarnya.

Loading...