Ekonomi dan Bisnis

Pedagang Pasar Tanah Abang: Kalau di Bawah Boleh, Kami Juga akan Turun

Tenda-tenda berwarna merah untuk para PKL yang didirikan di jalur Jalan Jati Baru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Tenda-tenda berwarna merah untuk para PKL yang didirikan di jalur Jalan Jati Baru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat. (Foto: Haris Fadhil-detikcom)

Para pedagang di Pasar Tanah Abang tidak sepakat dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah provinsi (Pemprov) DKI terkait penataan trotoar kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Penataan tersebut mulai diterapkan hari Jumat (22/12) ini. Mulai saat ini Pedagang Kaki Lima (PKL) diperbolehkan berdagang di jalanan Tanah Abang.

Para pedagang di Pasar Tanah Abang kecewa dengan kebijakan tersebut dan berniat untuk turun dan menggelar dagangannya di trotoar.

Menurut mereka, sebelum PKL difasilitasi, omzet mereka sudah turun. Apalagi saat sudah diizinkan, mereka khawatir omzet akan semakin anjlok.

Jika hal itu terus terjadi, mereka memilih untuk kembali menjadi PKL.

Seperti yang diungkapkan Pedagang Sepatu di Pasar Tanah Abang, Blok G, bernama Nasri.

“Kalau zaman Pak Ahok (Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama) enggak boleh. Zaman pak Anies itu longgar. Kalau di bawah diperbolehkan, kami juga akan turun,” ujarnya kepada detikFinance di kiosnya Pasar Tanah Abang Blok G, Jumat (22/12/2017).

Baca Juga:  Tunggangan Para Buruh yang Ikut Demo, dari Honda CBR hingga Yamaha NMAX

Nasri mengaku omzet penjualannya turun sejak PKL menempati jalan di kawasan strategis tempat penumpang turun dari stasiun. Dia mengaku akan segera turun untuk kembali menjadi PKL lagi bila kondisi penjualan di tokonya terus memburuk.

“Dulu kan kita kena gusuran pas zaman Pak Yos (Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso). Kalau gini secepatnya akan turun,” kata dia.

Hal senada juga diungkapkan pedagang jeans, Jefri. Dia juga mengaku akan turun menjadi PKL bila pedagang diizinkan untuk berjualan di jalanan.

“Mungkin ke depannya iya akan turun (jadi PKL) juga. Dijadikan kaki lima di sana itu, ke sininya kurang akses. Jauh dampaknya, apalagi kita kan di toko. Para pembeli pada malas untuk naik ke atas,” ujar dia.

Baca Juga:  [FOTO] PKL Kembali Padati Trotoar Stasiun Tanah Abang

Selain itu, harga barang berupa jeans yang ditawarkan oleh para PKL menurut Jefry juga lebih murah. Karena para PKL tidak memiliki tanggungan untuk membayar sewa.

“Dia kan lebih murah. Apalagi barangnya ambil dari distributor (yang sama seperti saya) jadi bisa (mereka) bisa jauh lebih murah daripada (barang) di toko,” kata dia.

Diketahui, Pemprov DKI Jakarta mulai Jumat (22/12) ini memberlakukan konsep baru penataan kawasan Pasar Tanah Abang. Penataan meliputi akses transportasi hingga PKL.

Ada beberapa perubahan konsep kawasan Pasar Tanah Abang. Pertama, jalan di sepanjang Stasiun Tanah Abang di Jl Jati Baru Raya akan ditutup. Perubahan kedua, PKL yang biasa berjualan di kawasan Pasar Tanah Abang akan dipindahkan ke depan jalan yang berada di depan Stasiun Tanah Abang.

Baca Juga:  Maraknya PKL di Sejumlah Trotoar di Jakarta, dari Jatinegara hinggaTanah Abang

Penutupan jalan Stasiun Tanah Abang berlaku mulai hari ini dari pukul 08.00-18.00 WIB. Selama itu, yang diizinkan melewati jalan di depan Stasiun Tanah Abang hanya bus TransJakarta.

Baca selengkapnya: Berlaku Mulai Jumat (22/12), Ini Konsep Baru Kawasan Tanah Abang ala Anies-Sandi