DKI Jakarta, Pendidikan

Gedung SMPN 32 Jakarta Roboh, Dua Guru Jadi Korban

SMPN 32 Jalan Pejagalan, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, roboh
SMPN 32 Jalan Pejagalan, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, roboh, Kamis (21/12/2017). (Foto: Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha)

Gedung SMP Negeri 32 di Tambora, Jakarta Barat roboh mengakibatkan dua guru luka-luka. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Gedung SMPN 32 Jakarta roboh diduga karena kondisi bangunan yang sudah cukup tua. Sekolah tersebut juga diketahui sebagai salah satu cagar budaya di Jakarta Barat.

Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Barat Rompis Romlih mengatakan, dua guru yang menjadi korban adalah Mahendra (40) dan Endang Winarya (41). Tidak ada siswa yang menjadi korban dalam kejadian itu.

“Ada dua korban tadi, yang satu luka tapi tidak terlalu parah. Sementara yang satu lagi berhasil dievakuasi setelah tertimpa reruntuhan bangunan, lumayan parah kondisinya,” ujar Rompis kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/12).

Korban tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Gedung SMPN 32 Pekojan, Jakarta Barat roboh, Kamis (21/12/2017). (Foto: Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha)

Rompis mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan soal Gedung SMPN 32 roboh tersebut sekitar pukul 13.30 WIB. Berdasarkan informasi yang didapatkannya, gedung tersebut memang merupakan bangunan tua yang dibangun sejak tahun 1880.

Hujan yang terus menerus menimpa Jakarta dan kondisi bangunan yang cukup tua menjadi dugaan sementara dari penyebab peristiwa tersebut. “Itu dari lantai dua sampah bawah (runtuh) semua itu,” katanya.

Gedung SMPN 32 Pekojan, Jakarta Barat roboh, Kamis (21/12/2017). (Foto: Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha)

Rompis mengatakan, gedung tersebut diketahui tidak digunakan sebagai ruang belajar mengajar. “Korban juga tadi keruntuhan tembok besar dan kayu-kayu,” kata Rompis.

Baca Juga:  Muncul Soal SD Bermateri Pembunuhan dan Perceraian, Ini Jawaban Mengejutkan Dinas Pendidikan

Sebanyak empat unit mobil damkar pun diturunkan dalam proses evakuasi. Pukul 14.25 WIB, petugas berhasil mengevakuasi korban yang kena reruntuhan tersebut.

Gedung SMPN 32 Pekojan, Jakarta Barat roboh, Kamis (21/12/2017). (Foto: Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha)

Sementara itu Wali Kota Jakarta Barat Anas Effendi sudah meninjau langsung lokasi.

Didampingi Lurah Pekojan dan Camat Tambora, Anas tiba pukul 17.20 WIB di SMPN 32 Pekojan yang ambruk. Dia langsung berkoordinasi dengan lurah dan camat terkait peristiwa tersebut.

Di lokasi yang sama, Camat Tambora Djaharudin mengatakan korban telah dibawa ke RS Tarakan dan RS Sumber Waras.

Di lokasi, tampak puing-puing bangunan menimpa sepeda motor dan mobil warga yang terparkir di sisi kanan sekolah. Sejumlah PPSU telah berkumpul di sekitar lokasi untuk membersihkan puing-puing bangunan sekolah yang ambruk.

“Kita nunggu steril dulu baru kita bersihkan puing-puingnya,” ucap petugas PPSU Kelurahan Pekojan Sutarli di lokasi.

Wali Kota Jakarta Barat Anas Effendi meninjau bangunan SMPN 32 di Tambora yang ambruk (Foto: Aditya Fajar/detikcom)

Tiang lapuk

Sebelumnya, pada awal tahun 2017 ini sempat diberitakan sudah ada tanda-tanda gedung SMPN 32 itu akan roboh.

Dua tiang penopangnya sudah lapuk. Ketika diketok dengan tangan, bunyinya tidak lagi padat alias sudah kopong.

Bahkan, di sejumlah titik tiang tampak sudah terkelupas. Bagian dalam tembok yang lapuk kerap berjatuhan.

Baca Juga:  Dirlantas Polda Metro Sayangkan Pembebasan Kembali Motor di Thamrin

‎Untuk menjaga keutuhan dua tiang penyangga itu, pihak sekolah terpaksa menerobos aturan, dengan cara mengecat dua tiang penyangga menggunakan cat hijau supaya tembok tidak terus menerus lapuk.

Padahal, sebagai benda cagar budaya, tak seorang pun boleh mengecat dinding itu.

‎Bagian lantai atas bangunan pun sudah tak digunakan lagi.

Pihak sekolah menutup tangga menuju ke lantai atas dengan seng. Takut siswa naik dan mengalami kecelakaan. ‎Sebab, kayu-kayu di lantai atas sudah lapuk dan keropos.

Beberapa guru yang mencoba naik ke lantai atas pernah terperosok karena kayu yang diinjak patah.

Dari luar, kondisi lantai atas pun tampak reot. Kayu-kayu patah dan lepas. Bahkan, beberapa ada yang disambung menggunakan tali plastik.

‎Begitulah kondisi bangunan tua buatan tahun 1880 di SMPN 32 di Jalan Perniagaan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Gedung SMPN 32 Pekojan, Jakarta Barat roboh, Kamis (21/12/2017). (Foto: Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha)

‎Oleh pihak sekolah, bangunan itu kini hanya dipakai untuk siswa menunaikan salat.

Selain itu, salah satu ruangan di bagian depan dipakai untuk ruang pramuka.

‎Saat hujan, siswa yang Salat mesti bergeser ke bagian tengah ruangan. Sebab, sisinya bocor dan air bercucuran dari atas. Mengalir mengikuti tembok.

‎”Kalau sudah hujan, ya siswa tak lagi Salat disitu. Orang bocor begitu,” kata Kepala Tata Usaha SMPN 32 Jakarta, Heri Sidik, kepada Wartakota di ruang kerjanya, Kamis (5/1/2017) sore.

Baca Juga:  Ini Analisa Roy Suryo Soal Google Ganti Kata Foke Jadi Ahok di Keyword 'Sungai Bersih Jakarta'

‎Heri juga menyebut bahwa lahan SMPN 32 Jakarta pun kini sudah miring ke sisi utara. Tanah di sisi utara amblas akibat banjir yang kerap menggenang di tahun-tahun sebelum Kali Krukut di depan sekolah dinormalisasi. ‎

“Miringnya itu kelihatan dari air di got di sekolah ini. Ketika hujan dan air got terisi, semestinya air mengalir ke sisi selatan got. Sebab saluran untuk buangan air ada di sisi selatan. Tapi ini justru mengalir ke sisi utara dan akhirnya tergenang. Tak mengalir airnya ini,” ucap Heri.

‎Miringnya sekolah di sisi utara pun kelihatan dari kondisi lapangan basket di sekolah itu. Bagian sisi utara lapangan kini retak-retak akibat amblasnya tanah.

‎Heri mengatakan, pihaknya sudah berulang kali bersurat ke Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata DKI Jakarta untuk memperbaiki gedung sekolah.

‎”Tapi, belum dikabulkan juga sampai sekarang,” kata Heri.‎

Peninggalan Tiongkok

Bangunan tua SMPN 32 yang digunakan sebagai tempat salat itu didirikan tahun 1880.

‎Di tahun 1880 bangunan bergaya Tiongkok itu ditinggali oleh keluarga Kho Pu Tjien. ‎Keluarga itu kemudian menjadikan itu sebagai hotel.

‎Para pedagang dari luar Batavia pun kerap menginap di bangunan itu di tahun 1880-an. ‎Baru kemudian di tahun 1880 hotel diperbesar.

Dibuat bangunan baru bergaya Belanda yang melingkari bangunan bergaya Tiongkok.

‎Selanjutnya baru tahun 1950-an bangunan itu digunakan untuk sekolah.

Lantaran tadinya hotel, ruangan kelas di SMPN 32 Jakarta pun cenderung kecil.

‎Di dalam ruang kelas meja saling berhimpitan dan hanya menyisakan sedikit ruang untuk berjalan.‎