Daerah, Ekonomi dan Bisnis, Papua Barat

BBM di Papua Turun Hanya Saat Jokowi Blusukan, Pertamina Angkat Bicara

Pertamina menanggapi isu yang menyatakan bahwa kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga di kawasan Papua belum berjalan sebagaimana mestinya. Isu itu menyebutkan harga BBM di Papua turun setara dengan di Jawa hanya pada saat Presiden Joko Widodo blusukan ke wilayah paling timur RI tersebut. Namun harga kembali melambung tidak lama setelah kepulangan Presiden Jokowi dari sana.

Isu tersebut pertama kali dilontarkan oleh tokoh agama di Papua, Pastor John Djonga. Ia mengatakan, harga BBM hanya turun seperti di Jawa, saat Presiden Jokowi melakukan blusukan di Papua.

Baca selengkapnya: Pastor Djonga: Harga BBM Turun Hanya Saat Jokowi Blusukan ke Papua

Namun pernyataan tersebut dibantah oleh Unit Manager Communication & CSR PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region VIII, Eko Kristiawan.

Menurutnya, harga BBM di lembaga penyalur resmi Pertamina sudah sesuai dengan Peraturan Presiden mengenai BBM satu harga.

Hingga pekan kedua Desember 2017, Pertamina bahkan terus menambah jumlah Lembaga Penyalur BBM Satu Harga agar masyarakat bisa menikmatinya.

Saat ini tercatat sudah ada 42 Lembaga Penyalur BBM Satu Harga dari target mendirikan 54 penyalur.

“Dengan adanya tambahan lembaga penyalur tersebut, maka masyarakat disekitar lokasi yang membeli BBM di lembaga penyalur tersebut dapat memperoleh BBM satu harga sesuai Perpres yang ditetapkan pemerintah,” ujar Eko dalam keterangan resminya, Selasa (19/12/2017).

Meski demikian, Eko juga mengakui saat ini masih ada masalah dalam penerapan kebijakan BBM satu harga tersebut, yaitu adanya pengecer atau pihak penjual di luar lembaga penyalur resmi Pertamina yang menerapkan harga cenderung mencari keuntungan berkali lipat.

Eko menyebutkan, salah satu solusi yang telah ditempuh Pertamina adalah dengan terus menyediakan stok sesuai kebutuhan di daerah yang masuk dalam program BBM Satu Harga.

“Seperti di Yahukimo, pengiriman menggunakan kapal dengan supply point dari jobber timika, beberapa bulan terakhir SPBU kompak menambah sarana penyimpanan BBM sehingga bisa memuat lebih banyak BBM maka tidak pernah lagi terjadi kekosongan BBM di SPBU Kompak”, terang Eko.

Baca juga: Istana Bantah Harga BBM di Papua Cuma Turun Saat Jokowi Blusukan ke Papua

Di sisi lain, perusahaan juga membutuhkan bantuan untuk mengawasi dan mencegah adanya orang yang memborong BBM dan menguras stok lembaga penyalur resmi.

“Dalam hal ini peranan pemerintah daerah sangat vital dalam hal mengatur, mengawasi dan mencegah pengecer agar tidak melakukan pembelian dalam jumlah yang banyak sehingga stok lembaga penyalur menjadi tipis sehingga membuka peluang para pengecer tersebut menjual BBM dengan harga tinggi,” ujarnya.

Pertamina mengklaim stok terakhir menjelang Natal & tahun baru berada di level yang sangat aman. Premium dan Solar diperhitungkan bisa tahan sekitar 20 hari jika dibanding rata-rata penjualan normal.