Kriminal

Dihukum Mati, Brigadir Polisi Pemutilasi Anggota DPRD Ini Malah Tepuk Tangan

Brigadir Medi Andika
Brigadir Medi Andika, anggota Polresta Bandar Lampung, terdakwa pemutilasi anggota DPRD Bandar Lampung, M Pansor.

Jurnalindonesia.id – Majelis hakim akhirnya menjatuhkan hukuman pidana mati terhadap Brigadir Medi Andika.

Dalam keputusannya, Majelis hakim yang diketuai Minanoer Rachman menyatakan, Brigadir Medi telah terbukti melakukan tindak pembunuhan berencana terhadap anggota DPRD Bandar, Lampung M Pansor.

“Menjatuhkan hukuman pidana mati terhadap terdakwa,” kata Minanoer Rachman saat persidangan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Senin (17/4/2017).

Putusan ini pun kemudian disambut tepuk tangan istri korban, Umi Kalsum, beserta para kerabatnya yang hadir.

Namun tidak hanya Umi, Sang Brigadir pun tampak ikut bertepuk tangan saat duduk di kursi pesakitan usai hakim membacakan putusan tersebut.

Putusan ini tidak berbeda dengan tuntutan dari jaksa penuntut umum (JPU) yang menuntut Medi dengan hukuman mati.

Pada sidang yang digelar sebelumnya, Rabu (29/3/2017), JPU menuntut Brigadir Medi Andika dengan hukuman pidana mati.

Brigadir Medi Andika adalah terdakwa kasus mutilasi anggota DPRD Bandar Lampung, M Pansor.

Dalam tuntutannya, jaksa penuntut umum Agus Priambodo menilai, perbuatan Medi terbukti melakukan tindakan pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP.

“Menuntut terdakwa dengan pidana mati,” ujar Agus, Rabu (29/3/2017).

Sontak para pengunjung sidang berdiri dan berteriak histeris.

Baca Juga:  Polisi: Kasus Andi Arief Dihentikan karena Tak Ada Barang Bukti Narkoba

Istri Pansor, Umi Kulsum, anaknya Fanny dan para kerabat bertepuk tangan senang mendengar tuntutan penuntut umum. Mereka berteriak bahagia.

Terlihat Umi, Fanny dan kerabatnya menangis. Mereka berpelukan di kursi pengunjung sidang.

Majelis hakim pun kemudian meminta para pengunjung sidang untuk tenang.

Agus mengatakan, tidak ada alasan pemaaf dan pembenar terhadap Medi selama dalam persidangan.

“Sepanjang persidangan tidak didapat hal yang dapat membebaskan terdakwa ataupun alasan pemaaf dan pembenar,” kata Agus.

Agus mengatakan, hal yang memberatkan adalah perbuatan Medi meninggalkan rasa pedih di keluarga korban, Medi adalah anggota polisi dan berbelit-belit selama persidangan.

Untuk hal yang meringankan, Agus mengatakan, tidak ada.

Brigadir Medi Andika

Brigadir Medi Andika memasuki ruang persidangan.

Tuntutan ini juga tidak berbeda dengan harapan keluarga korban. Malhan, salah satu kerabat korban berharap putusan majelis hakim terhadap terdakwa Medi sesuai tuntutan jaksa yakni hukuman mati dan tidak berubah.

“Kami sekeluarga berharap dan meminta majelis hakim menghukum terdakwa sesuai tuntutan, dan tidak berubah,” kata Malhan sehari sebelum pembacaan keputusan dari Majlis Hakim.

“Kami keluarga besar sudah rapat di rumah saya kemarin. Kami sekeluarga besok akan datang lebih ramai dari biasanya di pengadilan untuk mendegar putusan ini,” ujarnya.

Baca Juga:  Oknum TNI Tabrak Anggota Polantas Hingga Bergelantungan di Atap Mobil

Menurutnya, kedatangan jumlah keluarga yang lebih banyak dari hari biasanya bukan untuk melakukan tindakan anarkistis atau membuat keributan di pengadilan.

Malhan berjanji, keluarga besar akan tetap bersikap kondusif apapun putusannya.

“Bukan berarti kami mau ribut, kami tetap kondusif apapun putusannya kami serahkan ke majelis hakim,” ujar Malhan.

Menurut Malhan pihak keluarga besar juga berharap pengakuan terdakwa Medi bisa ditindaklanjuti penegak hukum, sehingga apa yang selama ini masih menjadi misteri semuanya bisa terungkap.

“Kami minta dan memohon, apa yang disampaikan terdakwa dalam repliknya ditelusuri, ditindaklanjuti. Kalau memang itu benar, biar semua jelas, terang dan adil,” kata Malhan.

Kronologi dan penangkapan

Kasus pembunuhan anggota DPRD Bandar, Lampung M Pansor, yang menghebohkan publik Lampung diawali hilangnya anggota dewan ini pada pertengahan April 2016.

Sekitar dua minggu kemudian publik digegerkan oleh temuan potongan di sungai OKU Timur, Sumatera Selatan. Potongan tubuh tersebut diduga jasad Pansor yang hilang.

Awal Mei 2016, Polda Sumsel merilis hasil pemeriksaan DNA di Puslafbor Mabes Polri dan memastikan potongan tubuh yang ditemukan di OKU memang benar jasad Pansor.

Baca Juga:  Waka Polri: Anak Buah Saya 1 Tahun Tak Bertemu Anak-Istri untuk Menangkap Teroris, Jangan Bilang Itu Pengalihan Isu!

Pada 26 Juli 2016, Polda Lampung menangkap Brigadir Medi Andika, anggota Polresta Bandar Lampung dan Tarmidi alias Dede, karyawan salah satu warung makan.

Medi disangkakan sebagai eksekutor pembunuh Pansor. Sedangkan Tarmidi sebagai pelaku yang ikut serta membuang mayat korban.

Tarmidi telah dijatuhi vonis bersalah oleh majelis hakim sebagai terdakwa penadahan dan pembuangan mayat Pansor.

Majelis hakim menilai Tarmidi terbukti melakukan penadahan dan turut serta membuang mayat Pansor.

Tarmidi divonis pidana selama satu tahun dan enam bulan dipotong masa tahanan.

Sementara Jaksa penuntut umum menuntut Medi dengan hukuman pidana mati. Tuntutan ini dibacakan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, pada Rabu (29/3).

Dalam tuntutannya, jaksa penuntut umum Agus Priambodo menilai perbuatan Medi terbukti melakukan tindakan pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam pasal 340 KUHP. (rri/val)