Kriminal

Djarot Diusir, NU Melawan

Jurnalindonesia.id – Kabar pengusiran calon wakil gubernur DKI, H. Djarot Syaiful Hidayat, menuai kecaman dari sejumlah pihak. Salah satunya yang paling vokal adalah dari para ormas Nahdlatul Ulama (NU).

Djarot diusir oleh sejumlah jamaar dari Masjid Al-Atiq di Kawasan Tebet Jakarta usai shalat Jumat, Jumat (24/4) siang.

Menurut Wakil Sekretaris PWNU DKI Jakarta, Husny Mubarok Amir, tindakan pengusiran tersebut sebagai suatu kejahatan yang harus dilawan.

“Bagi kami warga NU, pengusiran H. Djarot dari dalam masjid itu adalah satu contoh bentuk kejahatan politisasi masjid yang selama ini selalu kita tolak. Itu bagian dari radikalisme agama. Sebagai muslim, Djarot punya hak yang sama untuk shalat, berdzikir, mengaji atau ibadah lainnya. Mengusir orang adalah bentuk intimidasi fisik yang harus bersama-sama kita kecam dan kita lawan,” ujar Husny.

“Saya belum dapat memastikan, curiga boleh saja, bahwa jangan-jangan, model pengusiran seperti ini adalah bagian dari kampanye Paslon lain, agar penolakan terhadap Paslon Basuki-Djarot menjadi massif kemudian meluas. Kalo seperti ini, kita yang mengerti tidak boleh tinggal diam, masyarakat yang diam harus dibangunkan, diedukasi, kemudian kita buat mereka agar berani melawan intimidasi, provokasi dan ancaman,” tukas Husny.

Baca Juga:  NU Merasa Sendirian Hadapi Kelompok Intoleran

Baca juga: Sandiaga Menduga Diusirnya Djarot Bagian dari Strategi Kampanye Paslon 2

Sama Saja Hina Islam

Sementara itu, menurut Bendahara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Falah Amru, mereka yang melakukan aksi pengusiran tersebut sama saja telah menghina Islam.

“Dan pengusiran itu adalah bentuk politisasi masjid. Yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan agama. Islam tidak seperti itu,” tegas Falah, dalam keterangannya, Jumat (14/4).

Falah yang juga sekjen Baitul Muslimin ini menegaskan Djarot Syaiful Hidayat adalah seorang warga Nahdliyin. ‎Baginya, pengusiran terhadap Djarot adalah tindakan tidak baik dan cenderung kasar.

“Kalau tidak suka, ya tidak usah memilih di pilgub. Tetapi jangan kemudian bersikap malah menghina agama, Islam tidak seperti itu,” kata dia.

Kecaman juga dilontarkan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU Hery Haryanto Azumi.

“Tindakan itu tidak bisa dibenarkan apalagi karena alasan politik,” terang Hery.

Baca Juga:  Waka Polri: Anak Buah Saya 1 Tahun Tak Bertemu Anak-Istri untuk Menangkap Teroris, Jangan Bilang Itu Pengalihan Isu!

Mantan Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu menjelaskan, aksi sekelompok orang tersebut jauh dari nilai-nilai Islam.

“Karena ini wajib, seharusnya kita semua berusaha mengajak orang untuk shalat Jumat. Bukan sebaliknya mengusir orang yang mau melaksanakan salat Jumat,” ujar pria asal Trenggalek, Jawa Timur itu.

Hery menambahkan, saat ini sejumlah kalangan sedang berupaya menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang toleran.

“Makanya, aksi seperti itu bisa merusak upaya dan kerja keras kita dalam menciptakan kehidupan yang toleran. Aksi intolerasi dipastikan akan merusak kehidupan berbangsa dan bernegara kita,” tuturnya.

Menurut Hery, aksi tersebut cenderung mengarah pada praktik radikal.

“Itu yang saya maksud, intoleransi dapat menghancurkan bangsa dan negara. Lihat Suriah, Libya, Yaman, dan negara-negara gagal di Timur Tengah yang lain,” tegas Hery.

Hery mengajak semua pihak melestarikan praktik keagamaan yang moderat. Praktik itu sudah menjadi tradisi dan ikon Indonesia sejak lama.

Menurut Hery, Islam merupakan faktor positif dalam pembangunan karakter. Hal itu sesuai adagium hubbul wathan minal iman yang berarti cinta tanah air adalah perwujudan iman seorang muslim.

Baca Juga:  Polisi Amankan 8 Anggota FPI yang Berusaha Bubarkan Tablig Akbar NU

Baca juga: Polisi Usut Acara Sumpah di Bawah Acungan Golok

Diberitakan sebelumnya, teriakan bernada mengusir dilontarkan sejumlah jamaah Masjid Al-Atiq di Kawasan Tebet Jakarta. Pengusiran terjadi usai Djarot melaksanakan shalat Jumat di masjid itu.

Namun, Djarot sendiri menanggapi peristiwa yang menimpanya itu dengan kepala dingin.

“Kalau Jumatan (salat Jumat) itu bebas di mana pun, di masjid mana pun. Kita bebas memilih. Dan kami akan selalu cari masjid yang satu arah dengan acara berikutnya,” kata Djarot.

Djarot menilai, pengusiran itu menjadi bukti bahwa masjid sudah dipakai untuk kepentingan politik praktis.

“Itulah bukti adanya politisasi masjid untuk kepentingan-kepentingan politik praktis. Mungkin meniru pola di negara lain,” sebut Djarot.