Kriminal

Rekan Bisnisnya Dijemput Paksa Kasus Penggelapan Tanah, Sandiaga Uno Meminta Maaf

Jurnalindonesia.id – Sandiaga Uno merasa prihatin atas diperiksanya Andreas Tjahjadi terkait kasus dugaan penggelapan jual beli tanah senilai Rp12 miliar.

Sandi merasa tidak enak karena pelaporan kasus tersebut berkaitan dengan Pilkada DKI Jakarta. Selain itu, Sandi juga mengaku cemas dengan kondisi Andreas yang sudah tua, tetapi harus menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 15 jam. Dan Sandiaga pun meminta maaf kepada rekan bisnisnya tersebut.

“Saya mohon maaf sama Pak Andreas, sama keluarganya, karena kan ini pasti berhubungan dengan tanggal 19 April. Jadi saya belum sempat bicara tadi pas dia keluar beliau bilang beliau tetap tegar dan dia yakin bahwa apa yang dituduhkan ke dia itu tidak benar,” kata Sandiaga usai rapat bersama Prabowo dan beberapa kader Gerindra di Jakarta (13/4) di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (13/4/2017).

Baca Juga:  Belum Masuk Inti Pidato Hujan Turun, Warga Bubar, Sandiaga Tutup Sambutan

“Saya tadi sempat prihatin dan khawatir. Dan beliau kan usianya sudah lanjut, juga baru mengikuti turnamen untuk senior mewakili Indonesia. Setelah travelling lebih dari 30 jam, beliau langsung dijemput. Dan waktu saya cek sampai terakhir, alhamdulillah sudah pulang, tapi sempat diperiksa lebih dari 15 jam,” imbuhnya.

Setelah mengetahui Andreas telah selesai diperiksa, Sandi mengaku tenang karena Andreas tidak sakit atau pun kelelahan.

Lihat juga: Ini Bukti Penggelapan yang Dilakukan Sandiaga Uno

Sandi menuturkan Andreas sempat bicara sebentar dengannya pasca pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Menurut penjelasan Sandi, Andreas sempat heran soal tuduhan penggelapan lahan itu.

“Dia bilang ‘kok jadi begini ya’?” Kata Sandi.

Sandi melanjutkan, Andreas mengatakan kepadanya akan tetap tegar dan teguh berpegang bahwa apa yang dituduhkan kepadanya itu tidak benar sama sekali.

Baca Juga:  Sandiaga Uno Klaim Penataan Tanah Abang Selamatkan 3.200 Lapangan Pekerjaan

“Dia yakin kalau kebenaran itu tidak akan bisa tergoyahkan oleh kasus hukum,” kata Sandi melanjutkan.

Sandi menambahkan, Andreas pun berjanji akan berkomitmen untuk mematuhi proses hukum dan menjalani proses hukum yang berlaku hingga tuntas, tidak ada niat untuk mangkir atau mengabaikan proses hukum yang sedang berjalan.

Terkait dengan pemilihan gubernur DKI yang sedang berlangsung, Sandiaga optimistis kasus tersebut tidak akan mempengaruhi elektabilitasnya.

“Warga Jakarta sudah tahulah mana yang betul yang akan mereka pilih. Sekarang jumlah undecided sudah sangat rendah dan kasus seperti last minute seperti ini mudah-mudahan kita sesuai pilihan mereka,” katanya.

Sebelumnya, Sandiaga dan Andreas dilaporkan atas dugaan penggelapan jual-beli aset tanah di Curug, Banten, senilai Rp 12 miliar yang diklaim sebagai tanah milik rekan pelapor Djoni Hidajat pada Desember 2012.

Baca Juga:  Warga ke Sandiaga: Program Bapak Banyak, tapi Kita Nggak Paham

Sedangkan pihak Andreas, melalui kuasa hukumnya, P Parulian, mengatakan tanah tersebut milik PT Japirex.

PT Japirex adalah perusahaan industri rotan, di mana Sandiaga menjadi komisaris utama di perusahaan tersebut. Petinggi Japirex memutuskan melikuidasi perusahaan pada 1992, sehingga sejumlah aset kemudian dijual.

Polda Metro Jaya akhirnya menjemput paksa Andreas Tjahjadi setelah dua kali tidak menghadiri panggilan pihak kepolisian.

Hingga kini, proses hukum yang melibatkan mereka masih didalami oleh Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya.