Ekonomi dan Bisnis

Menkominfo: Kita Terlambat Memilih Jokowi Jadi Presiden

Menkominfo Rudiantara
Menkominfo Rudiantara (Foto: Anggoro Suryo Jati/detikINET)

Jurnalindonesia.id – Pembangunan infrastruktur telekomunikasi di wilayah Indonesia bagian timur berjalan lambat. Bahkan, proyek Palapa Ring sempat molor hingga lebih satu dekade. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pun menilai hal ini ada hubungannya dengan Presiden Joko Widodo.

“Memang kita harus akui sama-sama, infrastruktur telekomunikasi atau TIK di Papua itu memang terlambat, tapi mungkin juga terlambat memilih Pak Jokowi jadi presiden,” ucap Rudiantara di Kantor Gubernur Papua, Jayapura, Papua, Kamis (23/2/2017).

Cikal bakal dari Palapa Ring ini tercetus pada tahun 2008 yang dahulu masih bernama Nusantara 21. Kemudian di tahun 2005 digejotlah proyek Palapa Ring, namun pembangunan jaringan serat optik itu baru terealisasi dimulai tahun 2015.

“Begitu pemerintahan Pak Jokowi, 2015 praktis kita dengan dibantu Kementerian Keuangan, PII (PT Penjamin Infrastruktur Indonesia), dan semuanya ngebut,” ungkapnya.

“Tanda tangan kontrak Palapa Ring paket timur ini sudah selesai akhir tahun kemarin di Istana. Jadi, sosialisasi ini untuk mengeksekusi, bukan akan, akan, akan,” tegas Rudiantara.

Sebagai informasi, pada 29 September 2016 telah dilakukan penandatangan Perjanjian Kerjasama (PKS) Palapa Ring Paket Timur yang dilakukan Menkominfo selaku Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) dan PT Palapa Timur Telematika. Saat itu proses PKS disaksikan Menkopolhukam, Menko Perekonomian, dan Presiden Jokowi.

PT Palapa Timur Telematika adalah Badan Usaha Pelaksana (BUP) bentukan konsorsium Moratelindo, IBS, dan Smart Telecom selaku pemenang lelang proyek Palapa Ring Paket Timur. Saat ini PT Palapa Timur Telematika sedang melaksanakan pemenuhan pembiayaan (financial close) sebagai persyaratan untuk dimulainya proses konstruksi.

Untuk penggarapan pembangunan jaringan serat optik Palapa Ring Paket Timur ini dapat menjangkau 35 kota di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, hingga pedalaman Papua. Wilayah tersebut akan dibentangkan panjang kabel serat optik mencapai 8.454 kilometer dengan kapasitas bandwidth 80 Gbps. Nilai proyek ini mencapai senilai Rp5,1 triliun.

Proyek Palapa Ring merupakan salah satu proyek strategis nasional yang diatur dalam Peraturan Presiden No. 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksana Proyek Strategis Nasional.

Diketahui, proyek tersebut bentuk upaya pemerintah dalam membangun infrastruktur jaringan serat optik, di mana sebagai tulang punggung bagi ketersediaan Telekomunikasi Nasional yang menghubungkan seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Proyek Palapa Ring ini dibagi ke dalam tiga paket, yaitu paket barat, paket tengah, dan paket timur.

 

DETIKINET

Loading...