Pendidikan

Ini Klarifikasi dari Penerbit Soal Buku ‘Aku Berani Tidur Sendiri’

Aku Berani Tidur Sendiri
Sampul buku Aku Berani Tidur Sendiri

Jurnalindonesia.id –  Tiga Serangkai, perusahaan yang menerbitkan buku cerita anak berjudul ‘Aku Berani Tidur Sendiri – Aku Belajar Mengendalikan Diri’ memberi penjelasan lewat akun Facebook dan Instagram resminya, @tigaserangkai.

Sebelumnya, buku tersebut menuai kontroversi di sosial media sejak Senin (20/2) lantaran isinya yang dinilai mengandung konten dewasa tentang masturbasi.

Di beberapa potongan halaman buku tersebut terlihat ilustrasi anak kecil tengah hendak tidur sembari memeluk guling. (Baca selengkapnya: Buku Anak ‘Aku Berani Tidur Sendiri’ Bikin Heboh karena Dinilai Mengandung Pornografi)

Sejumlah pihak pun mengecam peredaran buku ini, salah satunya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dan tak sedikit netizen pun berharap jika buku ini bisa segera ‘ditangani’ agar tidak memberikan dampak buruk yang luas bagi anak-anak.

“KPAI minta buku itu harus ditarik. Penerbit dan penulis harus meminta maaf ke publik dan mengakui kesalahannya. Konten buku itu sangat tidak layak anak, mengajarkan tentang seksualitas yang tidak tepat, dan mendorong permisifitas terhadap seks menyimpang,” kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Niam Sholeh ketika dikonfirmasi, Senin (20/2).

Selain itu Mendikbud Muhadjir Effendy juga sudah meminta penarikan sementara peredaran buku tersebut sampai penyelidikan dituntaskan. (Baca: Soal Buku ‘Aku Berani Tidur Sendiri’, Mendikbud: Kok Ada-ada Saja Buku Ini)

Terkait polemik tersebut, penerbit Tiga Serangkai akhirnya memberikan klarifikasi. Berikut penjelasan Tiga Serangkai melalui akun Instagram resminya, Senin (20/2).

Sehubungan dengan maraknya pembicaraan dan beredarnya potongan halaman dari cerita “Aku Belajar Mengendalikan Diri” dalam “Seri Aku Bisa Melindungi Diri”, bersama ini kami sampaikan bahwa ketika kami menerbitkan seri “Aku Bisa Melindungi Diri”, kami berkeinginan membantu orang tua menjelaskan kepada anak-anak tentang pentingnya melindungi diri. Antara lain mengajarkan anak untuk melindungi diri dari orang-orang yang berniat tidak terpuji terhadap mereka, membekali anak cara melindungi diri dari ancaman penyakit dan kejahatan seksual, juga pengetahuan dasar seksual yang penting untuk diketahui anak sejak dini.

Kami mengangkat materi “masturbasi” dalam salah satu cerita karena berawal dari adanya fenomena anak yang mendapatkan keasyikan saat menyentuh, memegang, bahkan memainkan kemaluannya. Hal “negatif” ini sudah umum dijumpai. Apabila kita mengetikan kata kunci “anak memainkan kemaluannya” di Google, muncul banyak sekali artikel yang relevan dengan hal tersebut. Beberapa artikel bahkan menunjukkan bahwa perilaku ini juga dilakukan oleh balita. Beberapa orang menamakan aktivitas memainkan kemaluan ini dengan sebutan masturbasi. Sebenarnya, perilaku pada anak tersebut belumlah layak disebut masturbasi karena makna masturbasi adalah proses memperoleh kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin atau stimulasi organ seks oleh diri sendiri.

Anak, bahkan balita, tentu sama sekali belum punya hasrat tersebut. Seperti diutarakan oleh salah seorang psikolog dalam artikel yang kami acu, perilaku senang menyentuh atau memainkan alat kelamin adalah wajar karena anak usia pra-sekolah sedang berada dalam masa phallic (falik), bahwa salah satu sumber kenikmatan berada di daerah genital. Hal ini normal dan merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Namun, setiap orang tua tentu khawatir jika mengetahui anak mereka mengetahui hal tersebut. Mereka khawatir hal tersebut akan terus dilakukan anak sampai besar dan akhirnya berkembang menjadi masturbasi. Oleh karena itulah, cerita “Aku Belajar Mengendalikan Diri” ini ditulis.

Dengan latar belakang tersebut, buku ini berfungsi sebagai media untuk menyampaikan kepada anak bahwa perbuatan tersebut, memainkan kemaluannya, tidak sepantasnya dilakukan dan memiliki risiko kesehatan. Tentu target buku ini lebih diutamakan kepada para orang tua yang merasa anaknya juga melakukan hal tersebut. Namun, tetap ada baiknya jika buku ini juga dibaca oleh orang tua dan anak pada umumnya sebagai pengetahuan yang bermanfaat sebagai bentuk upaya pencegahan.

Pada akhirnya, kami sadar bahwa sebagian masyarakat kita mungkin belum siap untuk menerima pendidikan seksual sejak usia dini. Sebagai bentuk tanggung jawab kami, buku tersebut sudah kami tarik dari peredarannya dari toko buku umum sejak Desember 2016, tak lama setelah buku itu terbit. Namun sayang, ternyata masih ada yang menjualnya di toko online.

Sebagai bentuk tanggung jawab kami lainnya, jika tidak keberatan, kami mempersilakan Bapak untuk mengirimkan buku yang telah Bapak beli tersebut kepada kami ke alamat Redaksi Tiga Ananda; Jln Dr Supomo No 23 Surakarta 57141, Telp (0271) 714344. Kami akan mengganti buku tersebut dengan produk kami yang lain. Atau, jika berkenan, kami akan mengembalikan uang (alternatif) karena buku tersebut sudah ditarik dan tidak dijual bebas. Kami berharap penjelasan ini dapat menjawab keresahan Bapak dan Ibu. Demikian informasi ini kami sampaikan. Atas perhatian Bapak dan Ibu, kami ucapkan terima kasih.

Surakarta, 20 Februari 2017

Penerbit Tiga Serangkai

 

Loading...