Kriminal

Video Memprihatinkan Reporter ‘Babak Belur’ Diejek Massa dan Surat Pernyataan Karyawan Metro TV

JurnalIndonesia.id – Di situs berbagi video YouTube banyak beredar tayangan gambar yang memperlihatkan reporter Metro TV yang terpaksa harus menanggung ejekan dan hinaan saat meliput aksi 2 Desember kemarin.

Para peserta aksi pun tak segan-segan mendorong, meneriaki ‘kafir’, penipu dan mengusir para pegawai yang hanya menjalankan tugas dari tempatnya bekerja.

Terenyuh hati melihat tayangan tidak mengenakkan tersebut. Bayangkanlah jika saudara Anda mengalami hal seperti itu saat bekerja.

Ini contoh tayangan videonya:

Surat pernyataan pegawai Metro TV

Berikutnya, beredar di media sosial screenshot surat pernyataan dari seorang pegawai Metro TV. Surat tersebut ditulis sebagai bentuk keprihatinan atas apa yang dialami rekannya saat meliput aksi 212.

Berikut pernyataan lengkapnya:

Bekerja di Stasiun TV Kafir?

Kenalkan, nama saya Ami Melanrosa. Hamir 5 tahun ini saya bekerja di Metro TV, salah satu stasiun televisi berita yang ada di Indonesia.

Saat saya memutuskan bekerja di sini, bukan sekadar faktor ekonomi yang menjadi pertimbangan. Namun saya merasa bisa menghasilkan kara positif di tempat ini.

Sejak awal saya bekerja, saya sudah mendengar dan membaca tudingan-tudingan miring tentang MetroTV utamanya tentang TV anti Islam dll. Bagi saya yang bekerja langsung di dalamnya, saya berusaha mengklarifikasi pada orang-orang terpercaya di MetroTV dan alhamdulillah mendapat jawaban yang menenangkan hati.

Yang ingin saya ceritakan di sini, sejak awal saya konsisten berbusana islami dengan rok panjang dan jilbab panjang, diterima di kantor ini. Dan meski saya sebagai jurnalis tidak boleh berpartai, namun keberpihakan saya pribadi pada salah satu partai Islam yang terang-terangan saya ungkapkan, sama sekali tidak mempengaruhi penugasan saya di berbagai program.

Bahkan di awal saya bekerja, saya ditugaskan membuat segmen khusus ‘Java Overland’ yang tayang selama bulan Ramadhan di 2 program dan berisi dakwah para santri dan ulama yang tak pernah diberitakan media. Tak ada arahan atau larangan dari para pimpinan dan alhamdulillah justru diapresiasi.

Dan Ramadhan tahun lalu saya diamanahi membuat berbagai program selama Ramadhan dan Idul Fitri. Semuana alhamdulillah berisi dakwah dan kebaikan Islam.

Di pengujung Ramadhan saya live-kan para penghafal Al Quran di negeri ini, anak muda, artis dan bahkan seorang tuna netra. Tema besarnya adalah mengaja umat mencintai Al Quran.

Dan saat ini saya memegang program Morning Show di Metro TV. Insya Allah saya berupa menyebar info dan dialog yang isinya adalah kebaikan dan menginspirasi orang untuk berbuat positif dan baik.

Kenapa saya membuat tulisan ini? Sungguh sedih saya melihat teman-teman saya disebut penipu dan kafir saat meliput Aksi 212. Tahukah Anda, yang mencerca mereka, bahwa salah satu reporter yang Anda sebut kafir adalah seorang yang baru saja menunaikan ibadah haji? Dan semangatnya memberikan hal-hal positif di negeri ini sungguh saya bisa saksikan setiap hari.

Terkait data yang ia sebutkan di laporan live, silahkan ‘japri’ untuk penjelasannya.

Kalaupun tempat saya bekerja ada keberpihakan pada partai atau golongan tertentu, ya itu benar. Namun secara kebijakan redaksi kami tetap diarahkan memegang teguh prinsip dan kaidah jurnalistik. Satu syaratnya, semua program harus membuat masyarakat menjadi lebih baik. Jangan ada yang membodohi apalagi menyebar kerusakan dan kejahatan. Bukan berita yang sekadar menyampaikan peristiwa tanpa diberi konteks dan dimaknai. Apa stasiun TV lain bebas dari kepentingan politik? Silahkan menilai sendiri.

Mengapa saya masih bertahan di Metro TV? Karena saya merasa masih bisa berkarya menebar kebaikan bagi pemirsa saya, Insya Allah.

Jadi saya hanya bisa berdoa semoga saya tetap istiqomah. Jika saya melihat tempat ini membatasi saya berkarya, saya pastikan langsung angkat kaki dan hijrah mencari tempat lain.

Klik untuk melihat Screenshot

reporter-metrotv

Klik untuk melihat Screenshot

reporter-metrotv2

Klik untuk melihat Screenshot

reporter-metrotv3

Klik untuk melihat Screenshot

reporter-metrotv4

Laporan AJI

Dari keterangan yang dihimpun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, jurnalis Metro TV yang diintimidasi oleh peserta Aksi 212 adalah:

– Shinta Novita (juru kamera) dan Aftian Siswoyo (reporter) di halaman Masjid Istiqlal.
– Rifai Pamone (reporter) di depan gedung Sapta Pesona.

Intimidasi terhadap Shinta dan Aftian terjadi sekitar Pk. 15.00 saat akan mempersiapkan siaran langsung dari depan Istiqlal pasca bubarnya Aksi 212 di Monumen Nasional.

Aftian sudah mengenakan seragam dan bersiap di depan kamera cek komposisi.

Serangan serupa juga menimpa Rifai Pamone (reporter Metro TV) di depan gedung Sapta Pesona antara Pk 8-9 pagi saat siaran langsung untuk program Breaking News.

Selain Metro TV dihujat oleh para peserta aksi, badan Rifai juga didorong dan disiram pakai air. Tangannya ditarik, kakinya ditendang dan sejumlah orang mengerumuninya.

Kekerasan itu terjadi setelah massa mencoba mengusirnya dari lokasi liputan tersebut. Tapi Rifai tidak mungkin menghentikan siaran langsung tersebut.

Bagi Rifai ini kasus kekerasan kedua yang menimpanya dalam sebulan terakhir. Saat meliput Aksi 411 lalu, dia juga menjadi sasaran kekerasan saat sedang live di Masjid Istiqlal. Kala itu dia dikejar, ditengan dan diludahi oleh para peserta aksi.

Sumber