DKI Jakarta, Nasional

Benarkah Ada Penurunan Kinerja Pemprov DKI Sejak Ahok Cuti?

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Jurnalindonesia.id – Selama Basuki T Purnama (Ahok) menjalani masa cuti kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017, laporan kepuasan masyarakat DKI Jakarta melalui aplikasi Qlue mengalami penurunan.

Penurunan tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak periode Agustus hingga November 2016, namun penurunan paling terasa terjadi dalam dua bulan terakhir, yakni saat Ahok menjalani cuti kampanye.

Marketing Communication Manager Qlue, Elita Yunanda, dikutip Kompas.com, Selasa (29/11/2016) siang, menjelaskan, angka penurunan ditengarai karena sebagian besar warga DKI yang terbiasa mengadukan masalahnya melalui aplikasi Qlue menilai tindak lanjut dari dinas dan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) terkait tidak lagi responsif seperti sebelumnya. Bahkan, ada yang menyebutnya mengecewakan.

“Tindak lanjut dari pemerintah memang menurun dari segi kualitas. Kadang mereka asal-asalan tindak lanjutnya. Ini yang terus diawasi oleh user-user Qlue,” kata Elita.

Elita menjelaskan, penurunan kualitas tindak lanjut yang dimaksud lebih kepada tidak menyelesaikan aduan atau laporan sampai benar-benar tuntas.

Dia mencontohkan, ada aduan warga yang sebenarnya masih dalam proses tindak lanjut, tetapi sudah difoto oleh petugas di lapangan seakan-akan penanganannya telah selesai.

“Kemudian, tindak lanjut parkir liar, harusnya diberi peringatan seperti kempesin ban atau cabut pentil atau diderek, petugas lapangan di dinas terkait tindak lanjutnya kurang sesuai sama prosedur,” ujar Elita.

Elita menjabarkan, pihaknya membandingkan jumlah laporan yang masuk antara bulan Agustus hingga September dan Oktober sampai November. Dari data diperoleh, tercatat pada Agustus hingga September ada 82.983 total laporan. Sebanyak 14,3 persen di antaranya mendapat tingkat kepuasan rating rendah.

Jumlah itu justru kembali menurun pada Oktober hingga November. Pada periode itu, pihaknya mendapat 77.496 total laporan dari masyarakat melalui aplikasi Qlue. Bahkan jumlah laporan soal ketidakpuasan semakin meningkat. “16,06 persen di antaranya adalah laporan mendapat rating kepuasan user yang rendah,” kata Elita kepada merdeka.com, Rabu (30/11).

Tidak hanya itu, kata Elita, banyak para pengguna aplikasi juga mengeluhkan kinerja para abdi negara di Pemprov DKI Jakarta. Laporan soal turunnya kinerja itu juga terasa dalam empat bulan terakhir ini. Keluhan terutama terkait tindak lanjut dari tiap laporan melalui aplikasi.

“Selama hampir empat bulan belakangan ini memang banyak user yang mengeluhkan kinerja aparat pemerintah yang kurang maksimal menindaklanjuti setiap laporan warga melalui aplikasi Qlue,” ujarnya.

Dalam hal ini, lanjut Elita, masalah banyak dikeluhkan pengguna adalah terkait parkir liar. Dari 23.683 laporan masuk tentang parkir liar selama periode Agustus hingga November 2016, hampir 56 persen mendapat hasil kurang baik.

Oleh karena itu, Elita mengharapkan ke depannya pemerintah DKI Jakarta dapat memanfaatkan tiap data dari Qlue untuk meningkatkan efektivitas program Jakarta Smart City. Sejalan dengan visi Qlue untuk mendorong program pemerintah kota menuju Smart City dengan mengedepankan transparansi kinerja dan partisipasi publik.

Meski kecewa, warga dinilai tidak dapat berbuat banyak.

“Mereka (user Qlue) tahu bahwa peran itu ada di pemerintah untuk monitoring, bukan Qlue, karena Qlue hanya tools untuk melapor,” ujar Elita.

 

Loading...