Ekonomi dan Bisnis

Pria Ini Produksi Keramik dari Lumpur Lapindo dan Abu Merapi

Roy Wibisono

JurnalIndonesia.id – Berawal dari kecintaannya pada keramik, Roy Wibosono membangun makmalnya sendiri sejak duduk di bangku kuliah. Ahli kimia ini rajin menyisihkan uang sakunya untuk mengembangkan keramik dengan berbagai jenis bahan baku di laboratorium mininya itu.

“Ada kalanya saya beli bata tahan api. Saya melakukan yang saya suka,” kata Roy ketika ditemui Katadata, beberapa waktu lalu.

Mulanya banyak yang menyangsikan minat pasar terhadap usaha yang dirintis Roy, dengan brand Nuanza Ceramic ini. Namun kini ia menjadi pebisnis keramik beromzet hingga Rp 800 juta sebulan. Berbekal kemahiran sebagai ahli kimia, ia mengolah lumpur lapindo menjadi porselen berkualitas tinggi.

Keberhasilannya merupakan buah kerja keras dalam waktu yang tidak sebentar. Ia rajin menganalisa berbagai jenis bahan baku di makmalnya, termasuk abu vulkanik Gunung Merapi.

Menurut dia, berbisnis haruslah dijalankan layaknya hobi. Dengan begitu, peluang bisnis selalu dapat ditemukan di mana pun. Roy juga meyakini orang yang menikmati pekerjaannya pasti mampu menciptakan strategi untuk mengembangkan bisnis serta mengatasi persoalan yang muncul.

Baca Juga:  Bantah Prabowo Soal LRT, Ngabalin: Justru Ada Penghematan Rp13 Triliun

Selama ini, kata Roy, ada lima persoalan yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi persaingan dengan Cina. Pertama, teknologi di Cina jauh lebih maju. Kedua, dalam hal sumber daya manusia (SDM), para pekerja Cina dinilai lebih ulet dan produktif.

Ketiga, bahan baku di Cina lebih murah karena mudah diperoleh. Selain itu, yang keempat, elpiji sebagai bahan bakar untuk industri di Negari Panda tersebut lebih murah dibandingkan dengan Indonesia, karena perbedaan sistem satuan ukur.

Roy pun memberi gambaran. Di Cina, harga satu kilogram elpiji Rp 100 ribu. Sementara itu, Indonesia mengaplikasikan teknik meteran. “Misalnya, jika per kilogram harganya Rp 100 ribu, maka yang harus dibayarkan tetap lah Rp 100 ribu meski yang terpakai hanya senilai Rp 80 ribu,” ujarnya.

Baca Juga:  Kwik Kian Gie: Rupiah Akan Terus Merosot Sampai Ada Pemimpin Kuat yang Mampu Balikkan Keadaan

Kelima, Cina memiliki keuntungan secara geografis karena letaknya berdekatan dengan Amerika Serikat. Kondisi ini memudahkan negara tersebut melakukana ekspor ke Amerika Serikat. Oleh karena itu, kata Roy, Indonesia masih kalah dari Cina dalam merebut pasar di Amerika Serikat.

“Insting peneliti datang, dan saya mengkombinasikannya dengan bisnis,” kata Roy menjelaskan langkahnya dalam menghadapi kelima persoalan itu.

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Roy melakukan penghematan penggunaan gas dalam proses pembakaran. Selain itu, ia menerapkan skema pembayaran 50 persen uang muka. Tak hanya berhenti sampai di situ, dia membuat produk sesuai permintaan konsumen. Misalnya, para pelanggan dari Amerika Serikat menyukai figur tokoh-tokoh ciptaan Walt Disney, seperti Mickey Mouse.

Kekuatan lain yang dipertahankan Roy adalah kedekatannya dengan pelanggan. Ia percaya hal ini akan menciptakan kepercayaan serta kenyamaan untuk menjalin hubungan dagang. “Bisnis bukan sekedar mendapatkan uang, tapi masuk dan dekat dengan costumer,” tutur Roy.

Baca Juga:  Becak di DKI, Sutiyoso: Kalau Sudah Terlanjur Banyak Akan Sulit Mengatasinya

Dengan brand Nuanza Ceramic yang kini berusia tujuh tahun, Roy ingin menumbuhkan kebanggaan masyarakat Indonesia atas produk dalam negeri. Untuk itu, ia akan mengembangkan keramik dengan bahan baku tanah dari sembilan gunung di Tanah Air, termasuk Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Roy berencana menggelar pameran untuk produk-produk barunya itu bersama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Kementerian Pariwisata di Jakarta, pada April 2017. Salah satu produk istimewanya adalah patung penari Bali. (Katadata.co.id)