Nasional

Habibie dan Arcandra Tahar, Dua Putra Terbaik Bangsa yang Dipanggil Kembali ke Tanah Air

B.J. Habibie bersama Presiden Joko Widodo
B.J. Habibie bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi)

JurnalIndonesia.id – Arcandra Tahar bukan orang Indonesia pertama yang dipanggil ke Tanah Air untuk menjadi menteri setelah lama berkarier di Luar Negeri. Pada tahun 1974 ada Bacharuddin Jusuf Habibie yang lama berkarier di Jerman kemudian dipanggil kembali ke Indonesia oleh Presiden Soeharto untuk duduk di pemerintahan.

Seperti apa kisah Habibie yang lama berkarier di luar negeri kemudian kembali ke Tanah Air?

Setelah menamatkan studinya di SMAK Dago, Bandung, Habibie muda melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Mesin. Tahun 1954, tepatnya enam bulan sebelum lulus dari ITB Habibie memilih melanjutkan studinya di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule Jerman.

Tahun 1965 Habibie berhasil mendapatkan gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cumlaude. Dia mendalami bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang.

Habibie kemudian bekerja di Messerschmitt-Bolkow-Blohn atau MBB Hamburg. Karier Habibie di Negeri Panser itu terus bersinar hingga akhirnya pada pada tahun 1973, dia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978.

Tak hanya jabatan mentereng, Pemerintah Jerman juga menawarkan kepada Habibie untuk menjadi warga negara kehormatan. Sebuah tawaran yang amat jarang diberikan oleh Jerman.

Namun, Habibie menolak tawaran tersebut. Dia memilih setia menjadi Warga Negara Indonesia. “Sekalipun menjadi warga negara Jerman, kalau suatu saat tanah air memanggil, maka Paspor Jerman akan saya robek dan saya akan kembali ke tanah air,”kata Habibie dalam buku, ‘Habibie dan Ainun’.

Pemerintah Jerman bisa memahami penolakan Habibie. Sebagai gantinya, Habibie diberikan keluasaan untuk tinggal di Jerman sepanjang yang dia mau.

Di masa Filipina dipimpin Presiden Ferdinand Marcos, Habibie juga pernah ditawari untuk mengelola industri dirgantara di negara tersebut.

Lagi-lagi, Habibie menolak dengan alasan harus siap kembali ke Indonesia jika sewaktu-waktu tanah air memanggil. Dan benar, tahun 1974, Presiden Soeharto memerintahkan Mayjen TNI Ibnu Sutowo untuk menemui BJ Habibie di Jerman untuk membujuk agar dia mau pulang ke tanah air. Habibie, sosok anak bangsa yang cemerlang itu diminta kembali ke tanah air membangun industri dirgantara.

Habibie langsung mengiyakan permintaan Presiden Soeharto dan bersedia kembali ke tanah air. Oleh Presiden Suharto, BJ Habibie diangkat menjadi penasihat pemerintah di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga tahun 1978. Hingga akhirnya di tahun yang sama Habibie diangkat sebagai Menteri Riset dan Teknologi.

Dia melepaskan jabatan dan posisi strategisnya di Jerman untuk fokus membangun industri pesawat terbang di tanah air. Habibie dengan mudah kembali ke tanah air karena statusnya adalah WNI. Dia tak pernah mengambil status warga negara kehormatan yang sempat ditawarkan Jerman.

“Pak Habibie dulu jelas bahwa beliau tetap WNI dan berstatus sebagai permanent resident di Jerman Barat. Beliau tidak pernah menjadi WN Jerman. Arsip mengenai hal tersebut seingat saya ada di Sekneg (Sekretariat Negara),” kata Mantan Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra kepada detikcom, Minggu (14/8/2016).

Pulangnya Habibie ke tanah air berbeda dengan kasus yang saat ini tengah dihadapi Arcandra Tahar. Setelah 20 tahun berkarier di Amerika Serikat, Arcandra dipanggil Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali ke tanah air untuk menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sayang kembalinya Arcandra Tahar ke Indonesia memicu polemik karena ternyata dia disebut pernah memiliki paspor Amerika Serikat. Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal mengatakan bahwa untuk mendapatkan paspor AS harus menjadi warga negara di negeri Paman Sam itu melalui proses naturalisasi.

Padahal pada saat yang sama, Arcandra juga masih memegang paspor Indonesia. Menteri ESDM Arcandra Tahar, Minggu pagi tadi sudah menjawab soal dugaan memiliki paspor AS tersebut. Dia menegaskan bahwa masih memiliki paspor Indonesia.

“Saya masih memegang paspor Indonesia. Proses-proses yang berkaitan di sana sudah saya kembalikan semua. Itu sudah dikembalikan. Silakan tanyakan yang ke berwenang. Saya masih WN Indonesia. Silakan cek paspor saya,” kata Arcandra tanpa penjelasan lebih detail soal proses yang sudah dia kembalikan kepada otoritas Amerika Serikat.

Arcandra juga tak menjawab pertanyaan soal apakah dia pernah mendapatkan status kewarganegaraan dari Pemerintah Amerika Serikat.