Nasional

Lagi, JK Bicara Soal Speaker Masjid

Jusuf Kalla
Foto: Wapres Jusuf Kalla (Foto: Ferdinan/ detikcom)

Lagi, Wakil Presiden Jusuf Kalla berbicara mengenai pentingnya penataan pengeras suara (speaker) masjid. JK berharap ada harmoni di antara masjid sekaligus menekankan peran penting masjid dalam menangkal pemikiran menyimpang di masyarakat.

“Masalah teknis yang selalu kita bicarakan agar masjid itu di samping masalah pekerjaan tapi masih banyak masalah disebabkan karena loud speaker yang selalu saja saya sampaikan bahwa pengajian sebelum azan itu 25 menit, orang akan datang ke masjid. Nggak usah terlalu besar karena mengganggu siapa saja,” ujar JK saat berpidato di seminar internasional bertemakan “Peran Masjid dalam Menangkal Pemikiran Menyimpang” di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (4/8/2016).

JK menuturkan, Indonesia memiliki jumlah masjid yang sangat banyak. Karena itu dia menginginkan adanya penataan untuk menjaga harmoni antara masjid di lingkungan masyarakat.

“Masjid memberikan landasan berpikir kemakmuran, bukan hanya ibadah. Di Indonesia punya masjid terbanyak, hampir lebih 800 ribu masjid di Indonesia. Artinya setiap 250 orang Islam ada 1 masjid dan satu musala. Karena itulah, kadang-kadang suara azan saling bertentangan (bersahutan-red) akibat begitu banyaknya masjid. (Namun) kita bersyukur itu begitu hebatnya, tentu harus menjaga,” sambungnya.

JK yang juga Ketum Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini menegaskan DMI membantu menata masjid, termasuk memperbaiki kualitas layanannya. Dengan begitu, fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan dakwah dapat berjalan optimal.

Baca Juga:  Lima Pernyataan Bersama Ormas Islam Terkait Insiden Pembakaran Bendera

“Tugas kita semua menjaga batas-batas itu. Menjaga bagaimana masjid memakmurkan masyarakat kita agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan harapan dan pemikiran-pemikiran pada masyarakat. Itulah yang kita inginkan,” ujar JK.

JK menyatakan, beribadah seharusnya menjadi gaya hidup bukan hanya melakukannya sebagai sebuah rutinitas. “Tiap kali kita ucapkan 15 kali assalamualaikum, tapi perilaku kita kadang-kadang tidak sesuai doa itu. Marilah kita semua menjalankan ajaran (Allah SWT),” sebutnya.

JK memang memberikan perhatian lebih soal speaker masjid. Beberapa bulan sebelumnya JK juga menghimbau agar panggilan salat melalui speaker tidak dilakukan berlebihan. Cukup 10 menit sebelum waktu salat agar tidak menggangu orang yang sedang tidur.

Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Pelantikan Pengurus Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia DKI Jakarta di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Kamis (18/2/2016).

“Dalam azan dan mengaji, harus disesuaikan dengan waktu memanggilnya umat. Kalau orang ke masjid dalam waktu 10 menit, tak usah dipanggil setengah jam,” ujar JK saat itu.

“Azan itu 3 menit, paling tinggi 3,5 menit, menunggu iqamat 5 menit, totalnya azan sampai salat itu sekitar 10 menit,” terangnya.

JK menuturkan, pada dasarnya mengajak atau membangunkan orang untuk datang salat bisa cukup dilakukan dengan azan. Mengajak salat bisa dilakukan tanpa harus dengan pengajian apalagi pengajian dengan menggunakan tape recorder lewat pengeras suara.

Baca Juga:  Seorang Siswi SD di Semarang Diperkosa oleh 21 Orang

“Supaya jangan orang tidur terganggu. Jangan anak-anak yang sekolah besoknya jam 4 sudah kebangun, mengantuk lah dia. Orang kerja pagi-pagi akhirnya dia terganggu karena terlalu pagi dibangunkan, bangunkan pas-pas lah, 10 menit sebelum waktunya. Jangan setengah jam sebelum waktunya,” jelas JK.

“Kalau pengajian langsung mengaji, jangan pakai tape recorder, nanti yang dapat pahalanya orang Jepang, orang Korea, China,” imbuhnya.

Sebelumnya JK juga dan pihaknya juga berencana menyiapkan sekaligus melatih 700 orang teknisi dan menyiapkan 100 unit mobil teknis untuk tim pemantau speaker masjid ini. Setiap mobil ini akan berisi 3 teknisi yakni, elektrik, sound system dan kebersihan. Mereka dimaksudkan untuk keliling melatih pengelola-pengelola masjid.

Rencana ini sempat dikritik oleh banyak pihak. Ketua Komisi Agama DPR Saleh Partaonan Daulay mengkritik tajam pembentukan tim tersebut.

Mantan ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah itu meminta Jusuf Kalla memberi klarifikasi atas rencana pembentukan tim itu seperti yang disampaikan oleh Husein Abdullah selaku juru bicara Wakil Presiden. “Pak JK selaku Wakil Presiden perlu memberi penjelasan, klarifikasi,” tutur Saleh kepada CNN Indonesia, Ahad (26/7).

Saleh menyatakan pemerintah lebih baik membentuk tim pemantau fakir miskin daripada pemantau kaset pengajian di masjid. “Memelihara fakir miskin dan orang-orang terlantar adalah amanat konstitusi yang harus dilaksanakan oleh negara,” ujarnya.

Baca Juga:  Isu Akan Menikah Lagi dengan Polwan, Ini Jawaban Ahok

Lanjut dia, memantau kaset pengajian di masjid tidak ditemukan ketentuannya dalam peraturan perundang-undangan yang ada. Kalau negara tidak memantau dan memelihara fakir miskin berarti bisa melanggar konstitusi. Hal tersebut ada ketentuannya dalam Pasal 34 UUD 1945. “Kalau kaset pengajian di masjid biarlah diurus oleh marbot dan takmir masjidnya,” tutur Saleh.

Selain itu, JK juga pernah menghimbau agar masjid tidak memutar kaset pengajian dengan speaker saat orang tengah istirahat, yakni dini hari. JK meminta agar kaset rekaman itu diputar jelang subuh saja.

Hal itu ia sampaian saat memberikan sambutan di pertemuan MUI di Tegal.

Saat insiden di Tolikara, JK juga menyebut speaker sebagai pemicu inisiden tersebut. JK menyebutkan insiden itu dipicu karena umat muslim yang menggunakan speaker terlalu keras saat Salat Id, padahal sebelumnya sudah ada pemberitahuan untuk tidak menggunakan pengeras suara.