Nasional

Surat untuk Jokowi dari Merry Utami, Terpidana Mati Kasus Narkoba ini Bikin Terenyuh

Surat terpidana mati Merry Utami.

JurnalIndonesia.id – Terpidana mati kasus narkotik asal Indonesia, Merry Utami, mengirim surat permohonan maaf kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) jelang pelaksanaan eksekusi mati. Ia berharap Presiden memberinya pengampuan sehingga terbebas dari hukuman mati.

Berdasarkan salinan surat tersebut, Merry diketahui menulis surat pada Selasa (26/7) lalu. Dalam surat itu, Merry menyatakan permohonan maaf dan permintaan keringanan hukuman yang diperoleh kepada Jokowi.

“Saya Merry Utami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang pernah saya lakukan kepada negara ini. Saya mohon pengampunan dan keringanan dari Bapak agar hukuman saya dapat diperingan oleh Bapak yang saya hormati,” tulis Merry dalam surat tersebut.

Surat kepada Jokowi itu ditulis langsung oleh Merry. Selain meminta pengampunan, Merry juga mengakui penyesalannya atas pelanggaran hukum yang pernah dilakukan.

“Bapak, sungguh saya menyesal dengan kebodohan yang saya perbuat hingga membuat suatu pelanggaran hukum. Semoga Bapak Jokowi dengan kemurahan hati bisa mengampuni semua yang pernah saya lakukan,” tulisnya.

Surat terpidana mati Merry Utami.

Surat terpidana mati Merry Utami.

Keaslian surat Merry itu telah dikonfirmasi kuasa hukum sang terpidana mati, Troy Latuconsina. “Benar itu surat ibu Merry yang tulis. Kemarin sudah diajukan ke Presiden tapi belum ada balasan,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (28/7).

Merry merupakan terpidana mati kasus narkotik yang telah diproses hukum sejak 2002. Kala itu, ia ditangkap karena terbukti membawa 1,1 kilogram heroin di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Barang terlarang yang dibawa Merry bukan miliknya. Namun heroin tersebut adalah milik seorang pria kenalannya Jerry.

Jerry melalui kedua temannya, kala itu menitipkan heroin di dalam tas kulit kepada Merry yang hendak pulang dari Nepal ke Indonesia. Kepada Merry, Jerry menyatakan bahwa tas tersebut tidak berisi apa-apa.

Usai tertangkap, Merry mendapat vonis hukuman mati dari Pengadilan Negeri Tangerang pada 20 Mei 2002. Ia pun dipastikan menjadi salah satu terpidana yang akan dieksekusi akhir pekan ini di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Troy berharap, pemerintah dapat mengampuni Merry atas kecerobohannya membawa heroin 15 tahun lalu. Apalagi, Merry tak pernah melanggar hukum selama menjalani hukuman penjara.

Troy menyebut, Merry pantas mendapat pengampunan dari pemerintah.

“Kalau untuk ibu Merry saya sependapat dengan Komnas perempuan dalam arti ibu Merry kan sudah menjalani hukuman 15 tahun, dia juga kan korban bukan perantara atau pelaku langsung. Selama ditahan juga dia berkelakuan baik. Hal inilah yang kami minta kepada pemerintah supaya dipertimbangkan kembali, diberi pengampunan.”

Pencarian keadilan

Troy Latuconsina, berkukuh tak bersalah. Ia merasa menjadi korban dalam kasus kepemilikan heroin 1,1 kg.

Troy menuturkan, kliennya itu adalah bekas buruh migran di Taiwan. Selama tiga tahun, ia berada di Taiwan untuk menjadi perawat.

“Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak dan suaminya di Sukaharjo, Jawa Tengah,” kata Troy kepada CNNIndonesia.com.

Selama tiga tahun jadi tulang punggung keluarga, anak ketiga dari delapan bersaudara ini memutuskan tak lagi bekerja karena suaminya, orang yang seharusnya memberinya nafkah, malah menikah lagi.

Merry lantas memutuskan untuk bercerai dan mencoba peruntungan baru di dalam negeri. Tapi ternyata tak mudah mencari kerja di Indonesia.

Dengan kondisi harus menghidupi dua anaknya, Merry akhirnya menerima tawaran untuk kembali ke Taiwan. Ia pun ke Jakarta untuk mengurus rencananya kembali mke Taiwan di perusahaan yang memberangkatkannya.

Di ibu kota inilah, Merry bertemu Jerry, seorang warga Kanada. “Jerry mengaku pengusaha tas dan sepatu menjanjikan pekerjaan yang lebih baik kepada Merry,” kata Troy.

Pertemuan pertama di sebuah restoran cepat saji di pusat perbelanjaan Sarinah berlanjut pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Jerry di mata Merry adalah sosok pria baik. Hubungan mereka lantas menjadi lebih dekat.

Empat bulan menjalin hubungan, Jerry mengajaknya berlibur ke Nepal. Pelesiran ke luar negeri ini awal bencana bagi Merry. Ia sama sekali tak menduga, berawal dari liburan ini dirinya kemudian terancam menghadapi regu tembak di lapangan eksekusi.

Beberapa hari di Nepal, Jerry pulang lebih dulu ke Jakarta dengan alasan urusan pekerjaan. Saat tiba di Jakarta, Jerry menyuruh Merry menemui dua teman bisnisnya, Muhammad dan Badru.

“Dua orang ini kata Jerry akan memberikan tiket pesawat ke Jakarta, biaya perjalanan dan tas,” kata Troy.

Tas tangan wanita tersebut menurut Jerry adalah contoh barang yang akan dipasarkan di Indonesia. Merry sama sekali tak curiga dan membawa tas tersebut untuk dibawanya pulang ke Indonesia.

Tak ada hambatan berarti saat Merry pulang dari Nepal ke Jakarta dengan transit di Singapura.

Di Bandara Soekarno Hatta, bawa bawaan Merry juga sudah lolos pemeriksaan x-ray. Merry bahkan sudah keluar bangunan terminal dengan tas tangan yang dibawanya.

“Waktu sampai luar, dia ingat tas besarnya ada yang tertinggal,” kata Troy.

Merry lantas kembali masuk ke terminal dan mendatangi bagian lost and found. Di bagian laporan dan temuan barang hilang inilah petugas curiga kepada Merry.

Petugas curiga pada Merry lantaran ia mengaku akan menginap di hotel yang biasa digunakan pendatang asal Nigeria di Jakarta. “Karena curiga, petugas menghubungi polisi,” ujar Troy.

Polisi yang datang tak lama kemudian lantas menggeledah Merry dan barang bawaannya. Saat digeledah itulah di tas tangan yang dibawanya ditemukan heroin seberat 1,1 kg.

Meski mengaku barang hara itu bukan miliknya dan tak tahu menahu, polisi tetap menangkap dan menahannya.

“Merry ditahan sejak November 2001 dan divonis mati pada 22 Mei 2002 di Pengadilan Negeri Tangerang,” kata Troy. Upaya banding, kasasi, hingga peninjauan kembali Merry kandas.

Hari Minggu lalu, ia dipindahkan dari LP Wanita Tangerang, tempatnya ditahan selama ini, ke LP Batu, Nusakambangan. Proses pemindahan ini menurut Troy tiba-tiba. Sebagai pengacara, ia juga tahu dari pemberitaan media.

Di Nusakambangan, Merry langsung diisolasi di ruang khusus terpisah dengan narapidana lain. Bukan cuma dia, 13 terpidana mati juga ditempatkan di ruang khusus di LP Batu.

Beberapa hari kemudian Jaksa Agung menyatakan, isolasi itu merupakan bagian dari proses persiapan hukuman mati. Jika tidak ada kendala, regu tembak kepolisian akan menjalankan tugasnya akhir pekan ini.

Korban Sindikat Pengedar Narkotik

Merry adalah pelaku tunggal dalam perkara heroin 1,1 kg. Tiga orang lain yang diduga terlibat, termasuk Jerry, belum juga tertangkap sampai saat ini. Dua lainnya adalah Muhammad dan Badru, dua orang yang memberikan tas berisi heroin pada Merry di Nepal.

Merry menurut Troy tak tahu apapun perkara heroin yang ditemukan di tasnya. Karena dinilai hanya korban, perjuangan untuk terus mendapat keadilan terus dilakukan.

“Grasi sudah kami ajukan,” kata Troy.

Selain hanya sebagai korban sindikat narkotik, Merry menurut Troy juga selama ini berkelakuan baik di penjara. Kepala penjara menurutnya bahkan memberikan keterangan soal kelakuan baik Merry di balik jeruji.

Merry juga tak pernah melakukan pelanggaran hukum, terutama pelanggaran pidana narkotik. “Mudah-mudahan Presiden bisa mempertimbangkan. Jika Merry terlibat langsung memproduksi atau mengedarkan, mungkin saja tak bisa dimaafkan,” kata Troy.

Sementara itu Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Noor Rachmad mengatakan, wacana-wacana yang diungkapkan oleh pengacara terpidana mati tidak akan memengaruhi putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap dan dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, seluruh terpidana mati yang akan dieksekusi telah melewati serangkaian proses hukum, mulai dari kasasi hingga peninjauan kembali.

 

Loading...