Nasional

17 Ambulans dan 14 Peti Mati Diangkut ke Nusakambangan

ambulance pengangkut peti mati
Belasan ambulans tiba di Dermaga Wijayapura untuk diseberangkan ke Pulau Nusakambangan.

JurnalIndonesia.id – Kamis (28/7) pagi, sebanyak 17 ambulans beriringan memasuki Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dari 17 ambulans yang masuk, ada 14 yang membawa peti jenazah.

Kedatangan belasan ambulans di Pulau Nusakambangan tersebut diatur bergiliran sebab kapasitas Kapal Pengayoman IV terbatas. Kapal tersebut berfungsi sebagai kapal feri dari Dermaga Wijayapura, Cilacap, ke Pulau Nusakambangan.

Berdasarkan pemantauan di Dermaga Wijayapura, ke-17 ambulans datang dengan dikawal ketat oleh aparat Brimob bersenjata laras panjang.

Ketika diamati dari dekat, dari 17 ambulans ada 14 unit yang membawa peti jenazah yang terbuat dari kayu bercat coklat. Sedangkan tiga ambulans lainnya tidak berisi peti jenazah.

Dari 17 ambulans, 14 di antaranya mengangkut peti mati.

Dari 17 ambulans, 14 di antaranya mengangkut peti mati.

Salah seorang sopir ambulans, Sarinto, mengatakan bahwa 17 ambulans tersebut berasal dari berbagai puskesmas di Kabupaten Cilacap.

“Ambulans didatangkan dari seluruh puskemas di Cilacap. Sedangkan peti jenazah diambil pada Senin (25/7). Begitu masuk, nanti saya diminta untuk menunggu di Pulau Nusakambangan,” kata Sarinto kepada wartawan di Cilacap, Liliek Dharmawan.

Kepala Subbagian Humas Polres Cilacap, Ajun Komisaris Bintoro Wasono, mengungkapkan 17 ambulans sudah bersiaga di Pulau Nusakambangan.

“Ambulans tersebut disiapkan untuk mengangkut jenazah para terpidana mati. Nantinya, kepulangan ambulans menyesuaikan dengan alamat masing-masing. Jadi bisa saja ke Cilacap atau ke luar kota,” katanya.

Kapal Pengayoman IV bertugas sebagai kapal feri yang menyeberangkan ambulans ke Pulau Nusakambangan.

Kapal Pengayoman IV bertugas sebagai kapal feri yang menyeberangkan ambulans ke Pulau Nusakambangan.

14 terpidana mati

Kedatangan belasan ambulans yang membawa 14 peti mati ke Pulau Nusakambangan terjadi sehari setelah Jaksa Agung HM Prasetyo memastikan jumlah terpidana mati yang akan dieksekusi pada tahap tiga mencapai 14 orang.

Mereka disebut berasal dari Indonesia, Nigeria, Pakistan, dan India. HM Prasetyo mengaku tidak hafal semua nama, namun dia memastikan di antara narapidana yang akan dieksekusi terdapat Freddy Budiman, Merri Utami, dan Zulfiqar Ali asal Pakistan.

Penjagaan di Dermaga Wijayapura berlangsung ketat.

Penjagaan di Dermaga Wijayapura berlangsung ketat.

Dari Cilacap, Untung Sunaryo selaku pengacara Freddy Budiman mengaku kliennya sudah ditempatkan di sel isolasi. Hal senada diungkapkan Saut Edward Rajagukguk, pengacara Zulfiqar Ali. Menurutnya, warga Pakistan itu tengah sakit dan dalam sel isolasi.

Baik Untung maupun Saut menegaskan akan berupaya mengajukan permohonan grasi kepada Presiden Joko Widodo pada Kamis (28/07) agar klien mereka dapat diluputkan dari eksekusi.

Baca juga: Wow! Biaya Eksekusi Mati Hampir Rp 4,5 Miliar, Untuk Apa Saja?

 

Loading...