Nasional

Aniaya Satwa Dilindungi, Upload di Medsos, Enam Pemuda Menjadi Buron

Dengan bangga, mereka berfoto bersama primata berhidung panjang endemik Pulau Kalimantan itu. Foto itu diunggah oleh akun Facebook milik salah satu pelaku pada Senin (6/6/2016).
Dengan bangga, mereka berfoto bersama primata berhidung panjang endemik Pulau Kalimantan itu. Foto itu diunggah oleh akun Facebook milik salah satu pelaku pada Senin (6/6/2016).

Dengan bangga, mereka berfoto bersama primata berhidung panjang endemik Pulau Kalimantan itu. Foto itu diunggah oleh akun Facebook milik salah satu pelaku pada Senin (6/6/2016).

Perlakuan tidak pantas terhadap satwa liar dilindungi masih kerap terjadi. Ironisnya, para pelaku tanpa sungkan mengunggah foto bersama binatang itu ke media sosial.

Kali ini, sejumlah foto kembali meramaikan ranah media sosial, khususnya di Kalimantan Barat. Seekor bekantan (Nasalis larvatus) terkulai tak berdaya di tangan para pemuda.

Dengan bangga, mereka berfoto bersama primata berhidung panjang endemik Pulau Kalimantan itu. Foto itu diunggah oleh akun Facebook milik salah satu pelaku pada Senin (6/6/2016).

Foto-foto yang diunggah itu menuai kecaman keras dari para netizen. Kini, foto tersebut telah dihapus dari akun pelaku.

Menyikapi beredarnya foto tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat tak tinggal diam.

Kepala BKSDA Kalbar Sustyo Iriono memerintahkan petugas dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Singkawang untuk menindaklanjuti laporan tersebut.

Tim dari SKW III Singkawang bersama Satuan Reserse Kriminal dan Intek Kepolisian Sektor Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, kemudian melakukan investigasi.

Hasilnya, tim gabungan berhasil mengidentifikasi identitas enam orang dalam foto tersebut.

Mereka masing-masing adalah Adm, pemilik akun Facebook dengan foto tersebut. Pelaku lain berinisial Apr, Ato, Inal, Intat, dan Bayong. Mereka berenam merupakan warga Dusun Semantir, Desa Mekar Sekuntum, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas.

Petugas BKSDA tidak berhasil menemukan pelaku meski identitas mereka telah diketahui.

Hasil investigasi dan keterangan dari keluarga mereka menyebutkan bahwa mereka berenam sudah lebih dari lima bulan bekerja di salah satu perusahaan kayu di Kalimantan Timur.

Proses penyelidikan pun terkendala karena keluarga pelaku juga tidak mengetahui nama perusahaan tempat mereka bekerja.

“Pihak keluarga menduga bahwa kemungkinan besar lokasi kejadian di dalam foto itu berada di tempat mereka bekerja saat ini, yaitu di salah satu areal perusahaan perkayuan (sawmill) yang ada di Kalimantan Timur,” kata Sustyo kepada Kompas.com, Kamis (9/6/2016) malam.

Penyelidikan tak berhenti sampai di situ. Polisi menyatakan kesiapan dan akan memberi perhatian lebih terkait kasus ini, termasuk menelusuri penyalur tenaga kerja yang membawa mereka.

“Pihak kepolisian akan selalu berkoordinasi dengan BKSDA untuk proses selanjutnya jika masing-masing pelaku ini bisa diamankan,” kata Sustyo.

BKSDA Kalbar juga akan melibatkan mitra jaringan dari lembaga swadaya masyarakat dan Aliansi Jurnalis Konservasi untuk mengawal kasus ini, juga berkoordinasi dengan BKSDA dan Balai Pengegakan Hukum di wilayah Kaltim karena pelaku diduga bekerja di salah satu perusahaan perkayuan di sana.

Loading...